Logo Bloomberg Technoz

Terlebih, 400 juta barel minyak hanya setara sekitar 20 hari arus perdagangan yang melewati Selat Hormuz, bahkan besaran minyak yang dilepas IEA hanya sekitar 3,8 hari kebutuhan minyak dunia pada tahun ini.

“Artinya, langkah IEA lebih tepat dibaca sebagai bantalan darurat untuk membeli waktu, bukan solusi satu-satunya yang bisa mengakhiri lonjakan harga minyak,” kata Josua ketika dihubungi, dikutip Minggu (15/3/2026).

Meskipun begitu, Josua meyakini guyuran minyak mentah dari IEA tersebut bakal menahan laju kenaikan harga minyak global dalam jangka pendek.

Dia menilai harga Brent yang kembali melonjak ke atas US$100/barel disebabkan pelepasan cadangan IEA belum terdistribusi ke titik yang mengalami kekurangan pasokan.

“IEA sendiri menilai pelepasan ini memang memberi penahan yang penting, tetapi tetap hanya langkah sementara; hasil akhirnya sangat bergantung pada cepat atau lambatnya arus kapal di Hormuz pulih,” terang Josua.

Dihubungi secara terpisah, analis komoditas dan Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menilai guyuran minyak sebesar 400 juta barel yang dilakukan IEA hanya mampu menambal sebagian kecil dari defisit harian global gegara lumpuhnya Selat Hormuz.

Menurut dia, langkah IEA tersebut belum dapat mengatasi akar permasalahan ketidakseimbangan antara pasokan yang terhenti dan permintaan yang tetap tinggi.

“Selama risiko infrastruktur permanen dan premi risiko perang masih membayangi jalur distribusi fisik, langkah IEA ini cenderung hanya menjadi "obat penenang" sementara,” kata Sutopo ketika dihubungi.

Kapal tanker minyak. (Bloomberg)

Ketidakpastian Logistik

Dia memandang penghambat utama yang membuat harga minyak tetap melonjak adalah ketidakpastian logistik dan lonjakan biaya asuransi pengiriman yang sangat drastis di wilayah konflik.

Sutopo menyatakan pasar saat ini membeli komoditas tersebut tidak lagi mementingkan stok yang dimiliki, tetapi didasari ketakutan kurangnya stok yang dimiliki di tengah ketatnya pasokan dunia.

“Kondisi ini diperparah oleh fenomena psikologis di mana intervensi darurat dari negara-negara maju justru sering kali dibaca sebagai sinyal bahaya oleh para spekulan, yang kemudian memicu aksi beli lindung nilai guna mengantisipasi kelangkaan yang lebih parah di masa depan,” ungkap Sutopo.

Untuk diketahui, IEA sebelumnya setuju untuk melepaskan 400 juta barel dari cadangan minyak darurat. Volume ini jauh melebihi 183 juta barel yang dilepaskan negara-negara anggota pada 2022 setelah Rusia menginvasi Ukraina.

Namun, potensi kehilangan pasokan dari krisis saat ini mungkin juga jauh lebih besar, dengan hampir terhentinya aliran melalui Selat Hormuz yang penting, sehingga sejumlah besar minyak mentah dan bahan bakar tidak masuk ke pasar global.

“Tantangan pasar minyak yang kita hadapi belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala yang besar,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol pada Rabu pekan ini dalam sebuah pernyataan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengatakan pelepasan akan diatur dalam beberapa hari setelahnya, dan beberapa negara kini telah menguraikan kontribusi mereka.

Jepang, importir besar dan salah satu negara yang paling rentan terhadap guncangan harga minyak, mengatakan akan melepaskan sekitar 80 juta barel.

Inggris akan menyumbang 13,5 juta barel, Jerman sekitar 19,5 juta, dan Prancis sebanyak 14,5 juta. Korea Selatan berencana untuk melepaskan 22,5 juta barel. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) akan melepas 172 juta barel. Terbaru, Kanada juga meyumbang 24 juta barel dalam skema IEA itu.

Adapun, harga minyak mentah jenis Brent menetap di atas level US$100/barel untuk sesi kedua berturut-turut pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026).

Angka ini menandai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir, seiring berlarutnya konflik di Timur Tengah dan kesulitan para pemimpin dunia dalam mengatasi gangguan pasar minyak.

Minyak Brent, yang menjadi standar global, naik dan menetap di posisi US$103,14/barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak AS (WTI) berakhir di kisaran US$99/barel, level tertinggi sejak Juli 2022.

Peringatan dari Iran

Dalam perkembangan terbaru menanggapi keputusan IEA medio pekan ini, Iran memperingatkan potensi lonjakan tajam harga minyak global hingga US$200/barel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan energi dunia di Selat Hormuz.

Mengutip dari Al Jazeera, Minggu (15/3/2026), peringatan tersebut disampaikan oleh juru bicara komando militer Iran yang menyatakan pasar energi global harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak jika konflik regional terus meningkat.

Pejabat militer Iran menegaskan harga minyak sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi global.

Dalam pernyataannya, dia mengatakan dunia harus “bersiap menghadapi harga minyak US$200/barel” jika ketegangan terus berlanjut.

“Anda tidak akan bisa menurunkan harga minyak secara artifisial. Perkirakan harga minyak akan berada di angka US$200/barel,” kata juru bicara itu dalam sebuah pernyataan.

“Harga minyak bergantung pada keamanan regional, dan Anda adalah sumber utama ketidakamanan di kawasan ini.” ujar Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya IRGC.

Ancaman tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Iran sebelumnya juga memperingatkan kapal tanker minyak yang menuju negara-negara yang dianggap musuh dapat menjadi target, sehingga berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman energi strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut dapat memicu gejolak besar di pasar energi global.

Ketegangan geopolitik di kawasan itu telah memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.

(wdh)

No more pages