Para pejabat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan kebijakan minggu depan. Namun, dengan perang yang mengancam lonjakan inflasi dalam jangka pendek, beberapa investor kini melihat kemungkinan bank sentral akan menunda pemotongan suku bunga lebih lama lagi. Di sisi lain, para pejabat juga harus mewaspadai kerapuhan yang masih membayangi pasar tenaga kerja.
"Setidaknya sebelum guncangan harga energi ini terjadi, inflasi tampak mulai stabil dan kita melihat konfirmasi bahwa dampak tarif terhadap inflasi kini mulai memudar," ujar Sal Guatieri, ekonom senior di BMO Capital Markets.
Pasar bereaksi cepat terhadap laporan ini. indeks S&P 500 berbalik arah dari penguatan awal, sementara imbal hasil (yield) Treasury meningkat. Para trader memprediksi The Fed tidak akan memangkas suku bunga hingga paruh kedua tahun 2026.
Penurunan inflasi inti juga mencerminkan biaya perumahan yang lebih terkendali—salah satu komponen terbesar dalam IHK. Indikator utama yang dikenal sebagai sewa tempat tinggal utama naik 0,1%, kenaikan terkecil dalam lima tahun.
Harga barang, di luar makanan dan energi, hampir tidak meningkat. Namun laporan tersebut mengindikasikan bahwa untuk beberapa barang, seperti pakaian dan peralatan rumah tangga, perusahaan kemungkinan mencoba meneruskan biaya terkait tarif kepada konsumen.
Sejumlah kebutuhan rumah tangga utama seperti bahan makanan, bensin, dan gas rumah tangga tercatat lebih mahal pada bulan tersebut. Harga sayuran segar, termasuk selada dan tomat, melonjak paling besar sejak 2017, sementara harga kopi juga meningkat. Sebaliknya, harga telur dan mentega terus menurun.
Meski harga bensin sudah naik sebelum perang dimulai, kenaikannya semakin tajam sejak konflik terjadi karena gangguan terhadap pasokan minyak global. Harga bensin di pompa naik dari US$2,98 per galon sebelum serangan ke Iran menjadi US$3,58, menurut data terbaru dari AAA.
“Harga akan naik tajam mulai laporan berikutnya,” kata kepala ekonom High Frequency Economics, Carl Weinberg, dalam sebuah catatan. Ia menilai kenaikan harga energi tidak hanya akan mendorong tarif penerbangan dan biaya transportasi truk, tetapi juga merembet ke harga makanan dan barang lainnya.
Jika memasukkan komponen makanan dan energi, IHK secara keseluruhan naik 0,3% dibandingkan Januari dan meningkat 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Biaya hidup di AS terus menjadi beban bagi banyak warga, dengan konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi untuk hampir semua barang dalam beberapa tahun terakhir. Meski Mahkamah Agung bulan lalu membatalkan sebagian besar kebijakan tarif besar-besaran Donald Trump, pemerintahannya bergerak untuk memberlakukan pungutan melalui jalur lain, yang semakin mengaburkan prospek inflasi.
Selain perang, inflasi yang kuat di tingkat grosir juga berpotensi mendorong harga konsumen lebih tinggi. Pertumbuhan harga produsen tetap kuat dalam beberapa bulan terakhir, dan harga input bagi produsen melonjak pada Februari dengan laju tercepat sejak 2022, menurut Institute for Supply Management. Namun, indikator harga di sektor jasa versi ISM justru melandai bulan lalu.
Indikator sektor jasa yang dipantau ketat oleh The Fed—yang tidak memasukkan biaya perumahan dan energi—naik 0,4%, melambat dari Januari namun masih relatif tinggi. Meski bank sentral menekankan pentingnya indikator ini untuk menilai arah inflasi, perhitungannya didasarkan pada indeks yang berbeda.
Indikator tersebut dikenal sebagai indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang menggunakan data IHK untuk menghitung sejumlah komponen biaya. Data Januari dijadwalkan dirilis pada Jumat. Kedua indikator ini diperkirakan menunjukkan perbedaan pada awal tahun karena beberapa kategori—seperti perumahan dan layanan kesehatan—memiliki bobot berbeda dalam masing-masing ukuran.
Laporan BLS terpisah yang dirilis pada Rabu juga menunjukkan bahwa rata-rata upah per jam yang telah disesuaikan dengan inflasi naik pada laju tercepat sejak Mei secara tahunan.
(bbn)




























