Logo Bloomberg Technoz

Kemerosotan perekrutan yang tak terduga ini mengancam menggoyahkan pandangan yang selama ini berlaku di kalangan pembuat kebijakan bahwa pasar tenaga kerja yang mulai stabil akan memungkinkan mereka mempertahankan suku bunga tetap tinggi sambil memerangi inflasi yang masih persisten.

Angka payrolls yang negatif, ditambah lonjakan harga minyak, akan membuat para trader khawatir terhadap risiko stagflasi, menurut Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management.

Data ketenagakerjaan terbaru itu mungkin telah menempatkan Federal Reserve dalam posisi sulit, kata Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management.

“Pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja akan mendukung pemangkasan suku bunga. Namun, mengingat risiko bahwa harga minyak yang bertahan tinggi lebih lama dapat memicu lonjakan inflasi baru, The Fed mungkin merasa perlu tetap bersikap menunggu,” tambahnya.

Wall Street Has A Bad Week. (Sumber: Bloomberg)

Salah satu Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller mengatakan di Bloomberg TV bahwa ia tidak memperkirakan perang tersebut akan memberikan dampak berkelanjutan terhadap inflasi. Gubernur Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan kepada CNBC bahwa pelemahan lapangan kerja menunjukkan risiko masih tetap ada.

Meskipun laporan pekerjaan terbaru itu dirilis sebelum konflik Iran, lonjakan harga minyak meningkatkan kemungkinan inflasi energi yang lebih kuat, kata Andy Schneider dari BNP Paribas.

“Kenaikan harga minyak yang moderat, bahkan jika bertahan, memiliki dampak sementara terhadap inflasi utama AS dan dampak minimal terhadap inflasi inti AS,” kata Michael Gapen dari Morgan Stanley. 

“The Fed dapat melihat kenaikan ini sebagai hal sementara, tetapi karena inflasi telah berada di atas target cukup lama, bahkan tekanan harga minyak yang moderat pun bisa menunda pemangkasan suku bunga.”

Tanpa efek lanjutan (second-round effects) atau kenaikan ekspektasi inflasi, menurutnya kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve memiliki hambatan yang tinggi. Kenaikan harga minyak yang signifikan dapat melemahkan aktivitas ekonomi, bertindak seperti guncangan ketidakpastian dan membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga, tambah Gapen.

Jika pasar tenaga kerja terus kehilangan momentum, situasinya menjadi semakin rumit — terutama ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dan harga energi berpotensi bertindak seperti pajak tambahan bagi konsumen di pompa bensin, menurut Bret Kenwell dari eToro.

“Ini mungkin tidak mengubah keputusan The Fed bulan ini, tetapi pasar tenaga kerja yang terlihat semakin melemah adalah tren yang dapat mendorong The Fed ke arah kebijakan yang lebih dovish seiring berjalannya tahun 2026,” katanya. 

“Terlepas dari tingkat suku bunga, pasar tenaga kerja yang memburuk bukanlah hal yang ingin dilihat oleh para investor.”

Beberapa pergerakan utama di pasar:

Saham

  • S&P 500 turun 1,3% pada pukul 16.00 waktu New York
  • Nasdaq 100 turun 1,5%
  • Dow Jones Industrial Average turun 0,9%
  • MSCI World Index turun 1,1%

Mata uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index hampir tidak berubah
  • Euro hampir tidak berubah di US$1,1615
  • Poundsterling Inggris naik 0,3% menjadi US$1,3399
  • Yen Jepang turun 0,2% menjadi 157,83 per dolar

Kripto

  • Bitcoin turun 4,2% menjadi US$68.146,71
  • Ether turun 4,8% menjadi US$1.980,21

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedikit berubah di 4,14%
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 2,86%
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun naik sembilan basis poin menjadi 4,63%

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate naik 12% menjadi US$90,92 per barel
  • Harga emas spot naik 1,6% menjadi US$5.164,30 per ons.

(bbn)

No more pages