Calvin berpendapat, level kunci yang perlu diperhatikan adalah support di US$65.000. Apabila Bitcoin bertahan pada kisaran ini maka konsolidasi berikutnya pada level US$65.000 hingga US$67.500. Namun, jika harga kembali diuji di bawah angka tersebut maka tekanan di pasar keuangan global akan berlanjut.
Meski secara jangka pendek tekanan masih terasa dominan, dalam jangka menengah terdapat katalis positif seperti potensi kejelasan regulasi melalui CLARITY Act di Amerika Serikat, dan arus masuk dana institusional lewat ETF Bitcoin spot.
“Pergerakan awal pekan ini masih dibayangi tekanan bearish jangka pendek, dengan arah selanjutnya sangat ditentukan apakah level US$65.000 mampu dipertahankan. Dan bagaimana perkembangan sentimen global,” bebernya.
Calvin mengingatkan investor kripto agar tetap memperhatikan beberapa hal di tengah eskalasi konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini. Investor disarankan memahami bahwa pasar cenderung volatil karena meningkatnya sentimen risk-off.
Ia menegaskan, bahwa kripto adalah aset dengan volatilitas tinggi, sehingga eskalasi geopolitik dapat menciptakan tekanan jangka pendek.
CEO Indodax William Sutanto menambahkan, dengan harga Bitcoin yang sudah kembali ke level US$66.000 pasar saat ini menguji resistance di area US$67.500 hingga US$68.000. Apabila level ini berhasil ditembus maka potensi short squeeze bisa mendorong kenaikkan lanjutan ke level US$70.000 hingga US$72.000. Namun, jika gagal bertahan di atas US$64.000, pasar masih berisiko melakukan retest ke area US$60.000.
“Pasar kripto sangat responsif terhadap berita geopolitik secara real-time. Pergerakan 3–8% intraday dalam kondisi geopolitik seperti ini sangat biasa. Saat situasi panas, likuidasi mempercepat penurunan maupun kenaikan harga. Investor sebaiknya berhati-hati terhadap penggunaan leverage tinggi,” terang William saat dihubungi Bloomberg Technoz.
Sementara itu, Oscar Darmawan, Chairman Indodax, menyebut bahwa isu geopolitik umumnya hanya bersifat sementara dan lebih dipengaruhi sentimen dibandingkan perubahan fundamental. Ia meyakini investor lokal Tanah Air lebih matang dan memahami bahwa volaitilas merupakan bagian alami pasar kripto, sehingga tidak tercatat adanya kepanikan berlebihan.
“Jika sentimen global membaik dan faktor makro seperti arah suku bunga AS mulai lebih akomodatif, ada peluang Bitcoin kembali menguji area restance tersebut dalam beberapa minggu ke depan,” jelasnya.
Meski sentimen kripto dinilai masih lemah, JP Morgan melihat adanya kemungkinan pergerakan positif ketika regulasi struktur pasar kripto AS yang diperkirakan dapat disetujui pada pertengah tahun 2026 ini. Sehingga dapat memberikan katalis positif bagi pasar.
RUU struktur pasar yang diusulkan, secara luas disebut sebagai Undang-Undang CLARITY, dirancang untuk menciptakan kerangka peraturan yang komprehensif untuk aset digital di AS. DPR setempat telah memajukan undang-undang tersebut, sementara diskusi berlanjut di Senat.
"Sementara sentimen tetap negatif di pasar kripto, kami terus percaya bahwa potensi persetujuan undang-undang struktur pasar kemungkinan besar pada pertengahan tahun dapat berfungsi sebagai katalis positif untuk pasar kripto hingga paruh kedua tahun ini," kata analis JPMorgan yang dipimpin oleh direktur pelaksana Nikolaos Panigirtzoglou, dilansir dari TheBlock, Senin.































