Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, dia menambahkan, sektor energi dan komoditas seperti minyak mentah serta logam dasar berpotensi tetap kuat. Alasannya, kata dia, kemungkinan kenaikan harga minyak mentah setelah gangguan di Selat Hormuz.

“Sektor energi dan komoditas seperti minyak serta logam dasar berpotensi tetap kuat,” kata dia.

Di sisi lain, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit menerangkan IHSG masih berpeluang menguat ke depannya. Hanya saja, tren itu kemungkinan patah dengan adanya eskalasi di Timur Tengah.

“Kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support 8.187 dan resistance 8.281 karena adanya kekhawatiran investor atas kejadian tersebut,” kata Didit saat dihubungi.

“Kami cermati emiten-emiten terkait dengan energi dan emas, dapat menjadi pilihan investor saat ini,” kata dia.

Sebelumnya, IHSG ditutup di zona hijau pada perdagangan Jumat (27/2/2026) di level 8.235,48. Saham Barito Renewables Energy (BREN) jadi penopang utama.

IHSG sempat menyentuh level terendah 8.093,74 usai pelemahan tajamnya perdagangan akhir pekan lalu. Adapun level tertinggi tercapai di level 8.246,95 yang sempat terjadi sesaat kala pembukaan perdagangan Bursa.

Penutupan IHSG Sesi II pada Jumat 27 Februari 2026 (Bloomberg)

Dengan itu, IHSG berhasil rebound dari kejatuhan yang nyaris amblas 2% point-to-point.

Volume transaksi tercatat mencapai 47,64 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp38,24 triliun. Frekuensi yang terjadi hingga 2,52 juta kali diperjualbelikan.

Adapun saham–saham perindustrian, saham konsumen non primer, dan saham barang baku mencatatkan penguatan tertinggi dengan menguat 4,47%, 2,87%, dan 1,87% hingga menjadi pemicu kenaikan IHSG saat itu.

Selat Hormuz

Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tidak hanya memicu ketegangan politik. Kondisi ini juga mengguncang salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.

Blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel langsung membuat pelaku pasar siaga. Bukan hanya pasar minyak, tetapi juga industri pelayaran global. Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) pun melonjak tajam. 

Melansir Bloomberg Intelligence, sepanjang tahun ini saja, tarif spot VLCC sudah naik 767% dari level terendahnya pada 6 Januari lalu, dan pada 27 Februari tercatat sekitar US$225.637 per hari, jauh di atas rata-rata titik impas industri yang hanya US$25.000–US$35.000 per hari. 

Jalur pelayaran Hormuz. (Bloomberg)

Jika ketegangan berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada pelayaran, tarif itu berpotensi mendekati rekor 2019 yaitu sebesar US$317.334 per hari. 

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 26% perdagangan minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG) global melintasi jalur sempit ini setiap hari.

Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.

Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas.

Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin. 

(naw)

No more pages