Sementara itu, Mesir mencoba mempercepat pengeiriman setelah pemasok Israel menutup sebagian sumur gas mereka.
"Aktivitas kelauatan apapun di Selat Hormuz akan menjadi kabar baik, demikian juga dengan perkembangan pada produksi LNG Qatar," kata Tom Marzec-Manser, direktur LNG dan Gas wilayah Eropa di Wood Mackenzie.
Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menyebabkan goncangan pada perdagangan internasional gas, menutup Moskow dari pasar ekspor terbesalnya, memicu ketidakjelasan dan menyebabkan harga mencapai tingkat tertinggi di Eropa dan wilayan lain.
Asia terutama rentan akan dampak dari krisis Timur Tengah yang memburuk. Lebih dari empatperlima LNG produksi Qatar dijual ke pembeli Asia tahun lalu, dan China merupakan pembeli terbesar dengan hampir sepertiga impor gasnya berasal dari Qatar. India adalah importir terbesar kedua.
Pengiriman ke Asia - dan Eropa - harus melalui Selat Hormuz. Sejauh ini, setidaknya 11 tanker LNG dari dan menuju Qatar telah menghentikan perjalanan karena menghindari selat itu.
Uni Emirat Arab, yang mengekspor LNG lebih sedikit, juga memanfaatkan selat itu untuk mengirim produksinya tersebut.
"Tidak ada pengganti," kata Anne-Sophie Corbeau, peneliti Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia, dalam unggahan di LinkedIn.
"Apakah harga akan naik lebih tinggi lagi di Asia atau di Eropa? Eropa tidak terlalu terpengaruh, tetapi memiliki tingkat cadangan kecil. Hal ini juga tergantung seberapa besar dialihkan ke Asia," tulis Corbeau.
Qatar mengekspor 82,2 juta ton LNG pada 2025. Satu dari unit produksi Qatar di kompleks Ras Laffan sedang menjalani proses pemeliharaan sejak minggu lalu sehingga produksi pun akan berkurang.
Jika konflik di Timur Tengah ini berkepanjangan dan gangguan kiriman gas terus terjadi, risiko bagi produksi LNG pun akan bertambah. Produksi LNG mengharuskan alur ekspor rutin dan jika terputus akan terjadi pemotongan produksi.
Importir China adalah salah satu dari mereka yang melakukan kontak untuk mencari pasok alternatif jika upaya Iran menghentikan pengapalan terus berlangsung, meski QatarEnergi belum menunda pengiriman LNG ke para pembeli. Perusahaan Qatar ini belum menjawab permintaan komentar atas situasi saat ini.
Para pembeli di India, Jepang dan negara lain juga bersiap menghadapi kenaikan harga yang merupakan kebalikan tren kenaikan yang relatif lebih rendah dalam satu terakhir akibat pasok berlebih.
Hal ini tidak hanya terjadi pada pasar spot karena kontrak LNG jangka panjang biasanya dikaitkan dengan patokan harga minyak mentah sehingga kenaikan harga minyak Brent juga akan membuat harga gas lebih mahal bagi konsumen di Asia.
Titik lain yang berpotensi tertekan adalah Turki, yang mengimpor gas dari Iran melalui pipa gas. Seperti Mesir, Turki tampaknya harus membeli lebih banyak LNG jika pasokan utama terganggu akibat konflik di sana. Hal ini akan membuat harga gas yang dikirim dengan kapal menjadi lebih mahal.
Iran mengekspor gas ke Turki melalui kontrak sebesar 9,6 miliar meter kubik per tahun, meski belakangan volume sebenarnya yang dikirim lebih rendah dari angka kontrak tersebut. Pasok dari Tehran berjumlah 15% dari seluruh impor Gas Turki pada 2024.
(bbn)




























