Logo Bloomberg Technoz

Bagi Bitcoin, pelemahan akhir pekan ini memperpanjang tren jual di pasar kripto selama beberapa bulan terakhir, yang dimulai dengan likuidasi sekitar US$19 miliar (Rp319 triliun) posisi leverage pada Oktober. Bitcoin telah turun sekitar 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 (Rp2,12 miliar) pada awal bulan tersebut, dan belum mampu mengikuti reli emas maupun aset safe haven lainnya.

“Seperti biasa, ketika peristiwa penting terjadi pada akhir pekan, Bitcoin berperan sebagai katup pelepas tekanan,” kata Justin d’Anethan, head of research di Arctic Digital, seraya mencatat dampak awal terhadap token tersebut tidak sedrastis yang diperkirakan sebagian pelaku pasar.

“Dengan sebagian besar leverage sudah tersapu dan tekanan jual mulai habis, dampak peristiwa makro menjadi terbatas,” tambahnya. “Bukan berarti Bitcoin tidak bisa turun lebih jauh, tetapi sebagian besar volatilitas telah terlepas.”

Sementara itu, dengan pasar tradisional tutup, investor aset digital beralih ke komoditas yang ditokenisasi di bursa terdesentralisasi Hyperliquid untuk mengambil posisi terhadap dampak geopolitik. Harga kontrak yang terkait dengan minyak, emas, dan perak melonjak di platform tersebut.

Reaksi pasar juga terlihat dari lonjakan tajam tekanan jual pada derivatif Bitcoin. Dalam satu jam pada Sabtu pagi, volume jual meningkat sekitar US$1,8 miliar, menurut analisis CryptoQuant.

“Ketidakseimbangan seperti ini mencerminkan dominasi penjual yang jelas dan meningkatnya aversi risiko jangka pendek,” tulis analis kripto Sylvain Olive. “Arus dana lebih didorong oleh emosi dan manajemen risiko dibandingkan dinamika struktural, sehingga membutuhkan pendekatan yang hati-hati.”

(bbn)

No more pages