Sekadar informasi, India baru-baru ini juga menandatangani pakta kerangka kerja mineral kritis dengan Brasil pada Sabtu (21/2/2026).
Kedua negara sepakat bekerja sama erat dalam pengolahan, yang bertujuan untuk mengamankan pasokan mineral langka di tengah gejolak global.
Brasil, yang memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar kedua di dunia, menawarkan India sumber pasokan alternatif potensial karena negara tersebut berusaha mengurangi ketergantungan pada China dan mengamankan pasokan bahan baku kritis untuk elektronik, energi bersih, dan pertahanan.
Kesepakatan ini tercapai tak lama setelah India bergabung dengan inisiatif Pax Silica yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk membangun rantai pasokan yang tangguh di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, dan mineral kritis.
Di sisi lain, Indonesia dan AS dipastikan bakal melakukan kerja dalam pengelolaan mineral kritis termasuk logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) dari sektor hulu hingga hilir.
Hal tersebut tertuang dalam salah satu poin kesepakatan tarif resiprokal Indonesia dan AS yang baru saja diteken kedua kepala negara; Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Dalam dokumen yang dirilis White House, Kamis (19/2/2026) waktu setempat, dijelaskan bahwa Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor komoditas industri ke AS termasuk mineral kritis.
Selain itu, Indonesia dan AS akan mempercepat kerja sama dalam pengembangan, pengolahan, dan produksi hilir mineral kritis berdasarkan pertimbangan komersial.
“Untuk memperkuat konektivitas rantai pasok antara kedua pihak, Indonesia akan menghapus pembatasan ekspor komoditas industri ke Amerika Serikat, termasuk mineral kritis,” sebagaimana tertulis dalam dokumen kesepakatan tarif AS-RI, Jumat (20/2/2026).
Dijelaskan bahwa Indonesia akan bekerja sama dalam pengembangan sektor tanah jarang dan mineral kritis secara efisien bersama perusahaan AS, untuk memastikan rantai pasok yang aman dan beragam.
Indonesia juga akan memberikan kepastian yang lebih besar bagi perusahaan yang terlibat dalam ekstraksi mineral kritis, serta menciptakan kepastian bisnis untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pertumbuhan operasional.
Dalam perkembangannya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tak akan mengekspor bijih mineral kritis termasuk LTJ, meskipun mengizinkan AS mengelola komoditas tersebut di Tanah Air.
“Jadi ini bisa bersama-sama. Jadi katakanlah mereka mau bangun smelter di Indonesia untuk nikel, kita akan dorong, kita akan kasih ruang yang sebesar-besarnya, sama juga dengan negara lain,” kata Bahlil dalam konferensi pers, Jumat (20/2/2026).
“Jadi tidak, jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah. Enggak, yang dimaksudkan di sini adalah, mereka setelah melakukan pemurnian, kemudian hasilnya bisa diekspor. Biar clear nih, biar tidak ada salah interpretasi,” tegas dia.
(azr/wdh)
































