Militer AS mengerahkan sejumlah besar pasukan di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, pesawat tempur, dan tanker pengisian bahan bakar, memberi Trump opsi untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran saat ia menekan negara tersebut untuk mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya.
"Harga minyak mentah naik karena antisipasi kemungkinan aksi militer di Iran," kata Louis Navellier dari Navellier & Associates. "AS dan Iran diperkirakan akan bertemu lagi, dan negosiasi tersebut diperkirakan akan dipantau dengan ketat."
Menurut kepala badan pengawas nuklir PBB, peningkatan kekuatan militer AS di Timur Tengah berarti peluang Iran untuk mencapai kesepakatan diplomatik mengenai aktivitas nuklirnya berisiko tertutup. Perang potensial akan mengancam pasokan minyak dari wilayah yang memproduksi sekitar sepertiga minyak dunia.
Karena proksi militer Iran melemah dan krisis ekonomi, kata Dennis Follmer dari Montis Financial, negara tersebut tidak dalam posisi tawar yang kuat, sehingga pasar kemungkinan mengharapkan resolusi diplomatik.
“Saat ini, pasar saham belum memperhitungkan ketegangan antara AS dan Iran. Itu tampaknya wajar," katanya.
Obligasi Treasury sedikit berubah pada Kamis. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun satu basis poin dan dolar sedikit lebih tinggi.
Ketegangan di Timur Tengah membayangi pasar global yang baru saja pulih dari ketidakpastian akibat AI. Sejumlah pelaku pasar juga mengaitkan risk-off dengan kehati-hatian menjelang rilis data ekonomi dan inflasi pada Jumat, terutama setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fd) menunjukkan kekhawatiran baru tentang tekanan harga.
Di Asia, data yang akan dirilis meliputi neraca transaksi berjalan Indonesia, perdagangan Malaysia, dan tingkat pengangguran Hong Kong. Jepang akan menjual obligasi tiga bulan senilai 4,7 triliun yen (US$30 miliar).
Pada Jumat sore, Mahkamah Agung AS akan menggelar sidang publik tanpa argumen, di mana pasar memantau ketat kemungkinan putusan terkait tarif Trump.
Sentimen investor juga tertekan oleh keputusan Blue Owl Capital Inc yang membatasi penarikan dana dari salah satu dana kredit swasta mereka, yang memicu kekhawatiran atas risiko yang tersembunyi di balik pasar senilai US$1,8 triliun. Sahamnya anjlok sekitar 6% pada Kamis, menyeret saham perusahaan sejenis seperti Apollo Global Management Inc, Ares Management Corp, dan TPG Inc turun.
Para pelaku pasar juga memantau data ekonomi AS terbaru.
Klaim pengangguran turun paling banyak sejak November, menambah bukti pasar tenaga kerja stabil. Penjualan rumah eksisting turun pada Januari ke rekor terendah.
Defisit perdagangan tahunan AS dengan China menyusut pada 2025 ke level terkecil dalam lebih dari dua dekade—dan melebar ke rekor tertinggi dengan Meksiko dan Vietnam—karena tarif Trump telah mengubah tatanan perdagangan global.
Pada Jumat, pemerintah akan merilis perkiraan pertama produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal keempat, periode yang mencakup penutupan pemerintah federal terlama dalam sejarah. Laporan terbaru tentang ekonomi diperkirakan menunjukkan pertumbuhan melambat menjadi laju tahunan yang masih solid setelah berkembang dengan laju tercepat dalam dua tahun pada kuartal sebelumnya.
Konsumen kemungkinan tetap menjadi penggerak utama ekonomi meski mengeluh akan biaya hidup dan khawatir atas prospek lapangan kerja. Biro Analisis Ekonomi pada Jumat juga akan merilis indikator inflasi favorit The Fed.
(bbn)





























