Logo Bloomberg Technoz

Pandangan ini juga sejalan dengan pendapat Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal yang menilai berjamaah memiliki nilai lebih karena memperkuat ukhuwah dan syiar Islam.

Majelis Tarjih Muhammadiyah turut menegaskan bahwa Tarawih berjamaah membuka peluang pahala lebih besar. Hal ini merujuk pada keutamaan salat berjamaah yang secara umum lebih tinggi dibandingkan salat sendirian.

Dalil Hadis tentang Tarawih

Riwayat sahih dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memimpin Tarawih berjamaah selama beberapa malam. Namun beliau menghentikannya karena khawatir ibadah itu diwajibkan atas umatnya.

Dalam riwayat tersebut disampaikan bahwa Aisyah RA berkata Rasulullah SAW suatu ketika salat di masjid dan banyak orang ikut salat bersama beliau, kemudian pada hari berikutnya beliau salat dan masyarakat semakin banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka, dan pada pagi harinya beliau bersabda: “Aku telah melihat apa yang telah kalian perbuat, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menuju kalian kecuali karena aku khawatir salat Tarawih akan diwajibkan kepada kalian.”

Hadis ini menunjukkan bahwa berjamaah adalah praktik yang dianjurkan, tetapi Nabi juga mempertimbangkan kemudahan bagi umat.

Pandangan tentang Tarawih Sendiri

Tetap Sah dan Bernilai Ibadah

Sebagian ulama menilai Tarawih sendirian juga memiliki keutamaan, terutama bagi mereka yang hafal Al-Qur’an dan mampu menjaga kekhusyukan. Ibadah ini tetap sah dan tidak mengurangi pahala selama dilakukan dengan niat ikhlas.

Imam al-Mawardi dalam Al-Hawi al-Kabir menyebutkan bahwa jika pelaksanaan sendiri tidak menimbulkan kemalasan dan tidak mengganggu jamaah masjid, maka hal tersebut dipandang baik.

Kondisi tertentu seperti keterbatasan waktu, kesehatan, atau akses menuju masjid juga menjadi alasan yang dibenarkan untuk melaksanakan Tarawih di rumah.

Dimensi Spiritual dan Sosial

Tarawih berjamaah memiliki nilai sosial yang kuat. Pertemuan rutin di masjid mempererat hubungan komunitas dan menjadi ruang silaturahmi serta saling memotivasi dalam ibadah.

Di sisi lain, Tarawih sendirian memberi ruang refleksi pribadi. Seseorang dapat lebih fokus pada bacaan dan penghayatan ayat Al-Qur’an tanpa distraksi keramaian.

Para ulama sepakat bahwa kualitas kekhusyukan dan keikhlasan tetap menjadi inti dari ibadah ini, baik dilakukan di masjid maupun di rumah.

Tata Cara Pelaksanaan Tarawih

Warga Melaksanakan Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat (Sumber: Sultan Ibnu Affan/Bloomberg Technoz)

1. Delapan Rakaat Ditambah Witir

Sebagian ulama merujuk pada kebiasaan Nabi yang tidak menambah salat malam Ramadan lebih dari sebelas rakaat termasuk witir. Dari sini muncul praktik delapan rakaat Tarawih ditambah tiga rakaat witir.

Model ini banyak diterapkan di masjid yang menekankan bacaan panjang dan suasana khusyuk. Biasanya setiap dua rakaat diakhiri dengan salam.

2. Dua Puluh Rakaat Ditambah Witir

Pendapat lain yang juga kuat adalah dua puluh rakaat Tarawih. Praktik ini merujuk pada kebijakan Khalifah Umar bin Khattab yang menyatukan umat dalam satu imam pada malam Ramadan.

Tradisi ini berkembang luas di kalangan Nahdlatul Ulama dan menjadi praktik umum di banyak masjid di Indonesia. Setelah dua puluh rakaat, salat ditutup dengan tiga rakaat witir.

3. Pola Dua atau Empat Rakaat

Mayoritas ulama menganjurkan pelaksanaan dua rakaat salam hingga jumlah yang ditentukan. Pola ini dianggap paling sesuai dengan praktik yang umum dilakukan.

Sebagian kalangan juga memandang sah pelaksanaan empat rakaat sekaligus tanpa tasyahud awal, lalu salam pada rakaat keempat. Variasi ini tetap berada dalam koridor dalil yang dibenarkan.

Perbedaan pilihan dalam melaksanakan T Tarawih mencerminkan keluasan syariat Islam. Berjamaah dinilai lebih utama oleh mayoritas ulama karena nilai persatuan dan pahala kolektif.

Namun pelaksanaan sendirian tetap sah dan bernilai ibadah, terutama bila membantu menjaga kekhusyukan. Pada akhirnya, niat ikhlas dan konsistensi menjadi kunci utama dalam meraih keberkahan Ramadan.

(seo)

No more pages