Logo Bloomberg Technoz

Kekhawatiran itu semakin dalam sejak startup AI Anthropic merilis perangkat baru yang dirancang untuk mengotomatiskan tugas kerja di berbagai industri, memicu ketakutan bahwa inovasi tersebut akan menghancurkan banyak bisnis. Belum lagi dorongan perusahaan teknologi besar untuk menghimpun dana dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya guna membangun infrastruktur AI, sehingga membuat pasar kredit rentan — terutama ketika premi risiko sudah mendekati level terketat sejak krisis keuangan.

“Ini adalah prospek paling tidak pasti yang kami lihat untuk AI dan reli berbasis teknologi sejak pasar bullish ini dimulai,” kata Tom Essaye dari The Sevens Report. “Bukan berarti saham teknologi tidak akan pulih seperti sebelumnya. Namun saya ingin mengingatkan agar tidak menganggap pelemahan ini sebagai ‘sekadar guncangan kecil di jalan’.”

Dalam beberapa pekan terakhir, khususnya beberapa hari terakhir, lanskap pasar terasa “penuh ranjau darat AI,” menurut Steve Sosnick dari Interactive Brokers. Sektor perangkat lunak, lalu pialang asuransi, manajer kekayaan, dan pialang real estat secara berurutan terpukul oleh kekhawatiran akan terdampak parah oleh kemajuan AI yang dapat merusak model bisnis mereka, ujarnya.

Menurutnya, reaksi penurunan yang berlebihan mencerminkan kemampuan pasar yang digerakkan momentum untuk bereaksi berlebihan terhadap kabar buruk maupun kabar baik. Hal ini juga mencerminkan perubahan besar dalam psikologi pasar.

“Selama sebagian besar tiga tahun terakhir, investor mengambil pendekatan ‘gelas setengah penuh’ terhadap AI,” kata Sosnick. “Pertanyaannya adalah, ‘Apa yang bisa dilakukan AI untuk membuat bisnis atau industri lebih efisien?’ Kini tampaknya berubah menjadi, ‘Bagaimana AI bisa merusak model profitabilitas suatu bisnis atau industri?’ — dan alih-alih mencari pemenang, investor justru memburu calon pihak yang akan kalah.”

Saham mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari tiga minggu. Menjelang rilis data inflasi penting, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun tujuh basis poin menjadi 4,10%. Penjualan obligasi tenor 30 tahun senilai US$25 miliar menarik permintaan bersejarah. Bitcoin diperdagangkan di bawah US$66.000. Emas merosot di bawah US$5.000. Perak anjlok 11%. Minyak turun sekitar 3%.

Nasdaq 100 sees fifth drop of over 1% in 10 sessions. (Sumber: Bloomberg)

“Dari AI-phoria menjadi AI-phobia,” tulis para analis Yardeni Research dalam sebuah catatan. “Bagi mereka yang mengalami kemunculan internet, ini terasa seperti ‘déjà vu sekali lagi.’ Baik AI maupun internet merupakan disrupsi teknologi yang cukup mendalam untuk mengubah perilaku hampir semua orang.”

Ketakutan bahwa perusahaan-perusahaan baru yang menggunakan AI akan menggantikan pelaku lama telah menekan saham di berbagai industri selama dua minggu terakhir, kata mereka.

“Saat ini, kabar buruk tentang disrupsi AI jauh lebih banyak dibandingkan kabar baik tentang implementasi AI dan margin,” ujar Dennis DeBusschere dari 22V Research. “Keranjang saham terkait penggunaan AI bisa memantul ketika terdapat keseimbangan yang lebih ramah antara kabar baik soal margin/implementasi dan risiko eksistensial.”

Aksi pasar hari ini mencerminkan deleveraging secara luas, katanya. Meskipun mungkin ada kontribusi faktor makro dari investor yang semakin khawatir terhadap kondisi keuangan yang longgar setelah data ketenagakerjaan yang kuat, kontribusi risiko idiosinkratik (AI) terhadap imbal hasil masih sangat besar, simpulnya.

“AI mungkin mendorong perekonomian berkat investasi belanja modal (capex) yang masif dan peningkatan produktivitas, tetapi AI justru menjadi faktor negatif bersih bagi pasar saham,” kata Adam Crisafulli dari Vital Knowledge. AI “menghancurkan” saham-saham di industri lama (legacy industries), ujarnya.

Spread untuk perusahaan hyperscaler melebar di dalam indeks, dan sisi pasokan terdampak secara signifikan oleh AI, menurut Christian Hoffmann dari Thornburg Investment Management.

“Tema besar terkait AI adalah ‘ketakutan terhadap perangkat lunak’ (software scare), yang masih berlangsung di pasar ekuitas,” katanya. “Dinamika ini juga bergema di pasar pendapatan tetap, terutama di segmen berkualitas lebih rendah. Seiring ketakutan tersebut dihargakan ulang, investor menilai kembali aset dan menerapkan pengawasan yang lebih ketat terhadap eksposur dasarnya.”

Real Estate Stocks Sink as Worries About AI Risks Spread. (Sumber: Bloomberg)

Risiko disrupsi AI baru sebagian tercermin dalam pasar kredit, dengan potensi penyesuaian harga lebih lanjut hingga 2026 dan awal 2027, menurut para analis UBS yang dipimpin Matthew Mish.

“Penjualan besar pada Februari mencerminkan adopsi AI yang lebih cepat, tetapi spread — khususnya di pasar pembiayaan leveraged AS — belum sepenuhnya memperhitungkan risiko gagal bayar yang lebih tinggi dan tantangan pembiayaan ulang,” kata mereka.

Meskipun beberapa hari terakhir terlihat stabilisasi pada indeks saham acuan AS, kekhawatiran investor terhadap disrupsi AI masih membebani berbagai sektor, menurut Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Global Wealth Management.

“Dengan AI yang berperan sekaligus sebagai pendorong dan penekan kinerja, investor sebaiknya mempertahankan eksposur yang terdiversifikasi sambil secara dinamis mengevaluasi lanskap AI,” ujarnya. “Kami juga meyakini perusahaan yang secara aktif menggunakan AI untuk meningkatkan operasional dan mengembangkan model bisnis mereka akan diuntungkan, terutama di sektor keuangan dan layanan kesehatan.”

Memasuki awal 2026, pasar mulai melebar didorong harapan akan ekonomi AS yang “run hot”, dipacu kombinasi stimulus moneter dan fiskal serta kecemasan investor terhadap rencana belanja modal AI, kata Chris Senyek dari Wolfe Research.

“Sepanjang musim laporan keuangan, kita melihat pergerakan harga yang liar dan bergejolak karena berita terkait AI menciptakan risiko headline di berbagai industri, dengan kejatuhan di sektor perangkat lunak menyebar ke area lain yang berisiko ‘di-AI-kan’ seperti manajer aset dan penyedia data lainnya,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengatakan beberapa data ekonomi AS terbaru yang positif seperti data penggajian (payrolls) dan manufaktur semakin mendukung tren pelebaran pasar, yang memicu pelepasan posisi faktor (factor unwinds) di bawah permukaan.

“Kekuatan siklikal yang berlanjut umumnya sejalan dengan perbaikan ekonomi dan meningkatnya selera risiko,” kata Adam Turnquist dari LPL Financial. “Namun belakangan ini, rasio tersebut menyimpang dari S&P 500 karena saham teknologi besar mendingin dan kekuatan relatif di sektor keuangan, konsumen diskresioner, serta real estat melemah.”

Meski belum menandakan rotasi penuh ke sektor defensif, kecenderungan menuju penghindaran risiko yang mulai muncul ini patut dipantau secara saksama, katanya.

Kepemimpinan pasar saham memang mulai melebar melampaui saham teknologi berkapitalisasi besar (mega-cap), dan jika arah imbal hasil jangka panjang tetap datar hingga sedikit lebih tinggi, valuasi dan fundamental akan menjadi semakin penting, menurut Simeon Hyman dari ProShares.

Hal itu menjadi salah satu pendorong pelebaran kinerja pasar saham sepanjang tahun ini, tambahnya.

Sementara itu, Thierry Wizman dari Macquarie Group mengatakan AI kemungkinan akan segera masuk ke dalam perdebatan kebijakan moneter.

“Kelompok hawkish di FOMC mungkin akan mengandalkan data inflasi dan pengangguran real-time untuk membenarkan kenaikan suku bunga kebijakan,” ujarnya. “Jika ‘ketakutan AI’ semakin menekan sentimen, maka ‘beban pembuktian’ bisa segera beralih ke kubu hawkish untuk menjelaskan mengapa kebijakan tidak perlu dilonggarkan.”

Para trader masih menilai kecil kemungkinan pejabat Federal Reserve memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya di bulan Maret, dengan pemangkasan pada Juli sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Survei yang dilakukan 22V Research menunjukkan 33% investor percaya reaksi pasar terhadap data CPI akan bersifat “risk-on”, 43% mengatakan “campuran/tidak signifikan”, dan hanya 24% yang memperkirakan pergerakan “risk-off”. Selain itu, 62% investor menilai inflasi inti (core CPI) berada pada jalur yang ramah bagi The Fed, sementara 38% berpendapat kondisi keuangan perlu diperketat — persentase tertinggi sejak September.

Pasar dinilai terlalu percaya diri terhadap prospek inflasi AS, sehingga transaksi yang memberikan keuntungan jika tekanan harga meningkat terlihat menarik, kata Benjamin Wiltshire dari Citigroup Inc. Investor mungkin meremehkan ketahanan konsumen AS dan ekspektasi pasar terhadap inflasi kemungkinan akan direvisi sedikit lebih tinggi, tambahnya.

“Pasar tampaknya memiliki keyakinan bahwa inflasi akan turun,” ujar Wiltshire dalam sebuah wawancara. “Kita masih berada dalam lingkungan inflasi yang secara struktural lebih tinggi.”

Beberapa pergerakan utama di pasar:

Saham

  • S&P 500 turun 1,6% pada pukul 16.00 waktu New York
  • Nasdaq 100 turun 2%
  • Dow Jones Industrial Average turun 1,3%
  • MSCI World Index turun 1,2%
  • Bloomberg Magnificent 7 Total Return Index turun 2,3%
  • Indeks Semikonduktor Philadelphia Stock Exchange turun 2,5%
  • iShares Expanded Tech-Software Sector ETF turun 2,7%
  • Russell 2000 Index turun 2%
  • Cisco anjlok 12%
  • S&P 500 Equal Weighted Index turun 1,4%

Mata Uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index relatif tidak berubah
  • Euro relatif tidak berubah di US$1,1871
  • Pound sterling relatif tidak berubah di US$1,3623
  • Yen Jepang naik 0,4% menjadi 152,70 per dolar AS

Kripto

  • Bitcoin turun 3,2% menjadi US$65.584,65
  • Ether turun 2,5% menjadi US$1.919,84

Obligasi

  • Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun tujuh basis poin menjadi 4,10%
  • Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun turun satu basis poin menjadi 2,78%
  • Imbal hasil obligasi Inggris tenor 10 tahun turun dua basis poin menjadi 4,45%
  • Imbal hasil Treasury AS tenor 2 tahun turun enam basis poin menjadi 3,45%
  • Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun turun delapan basis poin menjadi 4,73%

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate turun 2,7% menjadi US$62,90 per barel
  • Emas spot turun 3,2% menjadi US$4.919,85 per ons

(bbn)

No more pages