“Tapi untuk C51, C52 yang masih bagus, industri kita masih butuh penyesuaian,” kata Bahlil.
Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasar pada kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah beroperasinya Refinery Development Masterplan Program (RDMP) di Kilang Balikpapan.
Selain itu, Bahlil menambahkan, kementeriannya bakal mengerek bauran solar dengan biodiesel sebesar 50% pada semester II-2026.
Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan, produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya.
Di sisi lain, Bahlil menambahkan, kementeriannya turut mendorong penghentian impor bensin nantinya.
Penghentian impor BBM jenis bensin itu akan menyasar pada produk dengan nilai oktan atau RON 92, RON 95, dan RON 98.
Rencanannya, penghentian impor bensin itu dilakukan pada akhir 2027 mendatang. Adapun, bensin RON 90 yakni BBM bersubsidi Pertalite bakal tetap diimpor.
Bahlil menyatakan keputusan terkait dengan penyetopan impor sejumlah jenis BBM tersebut akan diputuskan oleh Kementerian ESDM pada akhir 2027.
“Makanya RON 92, RON 95, RON 98, 2027 kita harus bangun industrinya, saya sudah panggil Pertamina, termasuk avtur,” kata Bahlil.
“Ujungnya nanti di mana kita impor apanya, crude-nya saja bahan bakunya, tapi seluruh produknya itu ada di dalam negeri,” tuturnya.
(naw)































