Yang jadi perhatian pasar, Kenaikan tersebut berasal dari saham perusahaan pertambangan bijih nikel menyusul saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang melesat 4,61%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 3,65%, dan juga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang terapresiasi 3,25%.
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang juga merupakan cucu usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang bergerak di bidang pengolahan nikel berhasil menguat 0,68%.
Kenaikan saham nikel tersulut rilisan data terbaru dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menerbitkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel periode tahun 2026 pada Selasa (10/2/2026).
Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno membeberkan kuota produksi bijih nikel yang disetujui berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton.
Kuota itu merosot jika dibanding dengan target produksi pada RKAB tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 379 juta ton.
“(RKAB) nikel sudah kita umumkan hari ini, (target produksinya) 260–270 juta ton, in between range–nya itu,” kata Tri kepada media di Gedung Ditjen Minerba, Jakarta, Selasa.
Dua saham nikel, saham NCKL dan saham INCO ditutup naik masing–masing 4,61% dan 3,65% setelah tersengat katalis berlanjutnya penguatan harga nikel global mencapai 2,27% point–to–point.
“Seiring Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 di rentang 260–270 juta ton (turun 29–31% dari 2025),” analisis CGS International Sekuritas Indonesia dalam reviu trading hari ini, Kamis.
Senada dengan itu, Panin Sekuritas menyebut, Konfirmasi pemangkasan kuota produksi nikel Indonesia dari RKAB 2026 menjadi 260–270 juta ton, atau jauh di bawah RKAB sebelumnya sebesar 379 juta ton, serta akan memperketat pasokan dan mendukung harga, mendorong penguatan harga nikel yang menguat 2,27% menjadi US$17.670/MT.
“Selain itu, Ketidaklengkapan laporan aktivitas investasi smelter Tiongkok di Sulawesi Tengah menimbulkan kekhawatiran terkait pengawasan produksi,” papar Panin siang hari ini.
Di sisi lain, dalam riset yang sama, pasokan dari Filipina tetap kuat dengan target ekspor yang tinggi, namun tidak cukup untuk menutupi ketatnya pasokan jangka pendek, sehingga sentimen bullish tetap terjaga.
(fad)
































