Berbeda dengan pembangkit listrik berbahan bakar fosil atau energi terbarukan, pembangkit listrik nuklir membutuhkan aliran listrik yang konstan untuk menjalankan sistem keselamatannya. Tanpa pasokan listrik tersebut, terdapat risiko bahan bakar di dalam inti reaktor mengalami panas berlebih, yang berpotensi menyebabkan pelepasan radiasi yang berbahaya.
Generator diesel merupakan lini pertahanan terakhir dalam rencana "pertahanan berlapis" untuk menjaga keselamatan nuklir. Sebagian besar stasiun pembangkit menyimpan stok bahan bakar yang cukup untuk memastikan operasi selama beberapa minggu jika listrik dari luar terputus.
Serangan udara Rusia pada 7 Februari lalu telah memaksa sembilan reaktor Ukraina yang masih beroperasi untuk menurunkan daya akibat kerusakan pada jaringan transmisi. Sementara itu, enam reaktor lainnya di PLTN Zaporizhzhia yang kini diduduki Rusia sudah dihentikan operasinya.
Bulan lalu, para diplomat IAEA mengadakan pertemuan darurat untuk menilai memburuknya keselamatan nuklir di Ukraina. Duta Besar Belanda, Peter Potman, yang menyerukan sesi luar biasa tersebut, menyatakan bahwa prospek kecelakaan nuklir kini berada di "ambang kenyataan."
Stabilitas jaringan listrik sangat bergantung pada gardu induk yang mengatur transmisi tegangan tinggi. Meski Ukraina memiliki ribuan gardu induk, terdapat 10 simpul krusial yang terhubung langsung dengan reaktor atom. Penghancuran pada titik-titik ini tidak hanya akan menenggelamkan negara dalam kegelapan, tetapi juga memicu keadaan darurat radiologis.
Tim pemantau IAEA di Ukraina diharapkan dapat memberikan penilaian risiko yang lebih rinci pada bulan depan.
(bbn)





























