Logo Bloomberg Technoz

Penurunan harga minyak mentah juga menggenapi mereda tensi geopolitik dan menurunkan premi risikonya, terlebih setelah pertanyaan Presiden Donald Trump yang menyebut telah mencapai kesepakatan dengan pemimpin Iran. 

Sehingga, penguatan dolar dalam dua hari terakhir ini membuat pergerakan mata uang Asia cukup beragam, tergantung sentimen domestik yang menggelayutinya. 

Pergerakan nilai tukar mata uang Asia di pasar yang sudah dibuka pagi ini menunjukkan penguatan yen Jepang paling dominan menguat 0,07%, disusul yuan offshore China dan dolar Hong Kong masing-masing menguat tipis 0,2%, dan dolar Singapura yang menguat 0,01%. 

Yen terkerek menjadi JPY 155,63/US$ sesaat setelah PM Jepang Sanae Takaichi mengklarifikasi komentarnya, dengan menyebut yen yang lemah bisa menjadi peluang bagi eksportir. Klarifikasi ini meredakan kekhawatiran pasar atas sikap pemerintah terhadap pelemahan yen.

Tekanan Rupiah

Tekanan dari pasar domestik terhadap rupiah masih akan datang dari sentimen internal yang masih sama. Kekhawatiran pasar terhadap konsistensi kebijakan fiskal, serta kebutuhan likuiditas pemerintah yang begitu tinggi jadi faktor yang terus membebani persepsi rupiah. 

Kekhawatiran terkait independensi bank sentral yang belum kunjung mereda juga bertambah bobotnya dengan teguran dari MSCI yang membuat investor meninggalkan pasar saham domestik. Kemarin, IHSG ditutup melemah 4,88% dan berada di bawah 8.000. 

Dari pertemuan kemarin dengan petinggi MSCI, otoritas bursa berkomitmen untuk mengungkapkan kepemilikan pemegang saham 5%, dan meningkatkan transparansi kepemilikan saham dan rencana kenaikan free float minimum secara bertahap. 

Meski sentimen domestik sedikit mereda, laju dolar AS masih kuat. Menguatnya indeks dolar ini membuat ruang gerak bagi bank sentral makin sempit. Rentannya posisi rupiah saat ini terjadi lantaran akumulasi persepsi risiko domestik yang belum terselesaikan. 

Saat ini, pasar masih menunggu sinyal yang lebih tegas terkait disiplin fiskal, arah pembiayaan defisit, serta komitmen menjaga independensi otoritas moneter. 

Rupiah berisiko melanjutkan pelemahan hari ini dalam jangka pendek, lantaran penguatan indeks dolar AS ke area 97,00. Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan menguji zona resistance di level Rp16.800/US$ hingga Rp16.900/US$ per dolar AS.

Namun, tekanan depresiasi ini diperkirakan akan tertahan oleh intervensi BI yang menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Dengan surplus perdagangan yang masih tercatat positif sebesar US$41,05 miliar, dapat memberikan bantalan sementara bagi cadangan devisa. Meski begitu, efektivitasnya dalam memperkuat posisi eksternal diperkirakan terbatas, lantaran tekanan intervensi yang masih tinggi dan dana asing masih keluar dari pasar domestik, apalagi di tengah inflasi yang melonjak 3,55% secara tahunan. 

Lonjakan inflasi tahunan yang mendekati atas target bank sentral juga dapat menambah tekanan bagi rupiah, lantaran makin sempitnya ruang kebijakan moneter serta dapat memperkuat risiko di tengah arus keluar dana asing yang masih terjadi. 

Sebagai catatan, arus keluar dana asing tercatat keluar pada pekan lalu sebanyak US$128,7 juta pada pasar surat utang. Untungnya, kemarin di pasar saham investor asing mulai kembali menempatkan dananya US$39 juta setara dengan Rp654,9 miliar. 

(riset/aji)

No more pages