“Sikap positif kami sebelumnya didasarkan pada valuasi relatif yang menarik, ekspektasi adanya stabilisasi ekonomi dan laba perusahaan, serta ekspektasi pasar yang rendah setelah kinerja yang lama tertinggal,” lanjut Seth.
Ia juga mencatat bahwa saham dan nilai tukar sebelumnya dinilai menawarkan profil risiko dan imbal hasil yang menarik bagi investor dengan horizon jangka panjang.
“Saham dan mata uang sebelumnya berpotensi menciptakan profil risk-reward yang menarik bagi investor yang sabar,” tulisnya.
Sebagai informasi, Nomura merupakan pengelola kekayaan terbesar di Jepang dengan aset klien sekitar US$153 triliun dan menguasai sekitar 15% pangsa pasar domestik.
Perubahan pandangan Nomura ini menambah daftar tekanan eksternal terhadap pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, Goldman Sachs juga menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi underweight dalam laporan Asian Equity Perspectives Portfolio Strategy yang dirilis pada 29 Januari 2026.
Laporan tersebut terbit dua hari setelah MSCI menyampaikan hasil konsultasi terkait metodologi free float dan investabilitas atau kelayakan investasi saham Indonesia pada 27 Januari 2026.
UBS Group AG yang juga memangkas rekomendasi saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Dalam catatannya, UBS menilai kekhawatiran MSCI terkait investability dan potensi reklasifikasi ke status frontier market akan menjadi beban berkepanjangan bagi pasar hingga ada kejelasan arah kebijakan regulator serta hasil penilaian ulang MSCI.
“Kami memperkirakan overhang di pasar akan bertahan sampai terdapat kejelasan regulasi dan evaluasi MSCI,” tulis analis UBS yang dipimpin Sunil Tirumalai dalam riset tertanggal 28 Januari.
(dhf)





























