Angka ini lebih rendah dari perkirakan median ekonom 2,2% dan turun dari 2,3% pada bulan sebelumnya. Jepang mencatatkan inflasi secara umum melambat ke 1,5%, turun di bawah ambang 2% untuk pertama kali sejak Oktober 2024.
Jepang juga mengalami perlambatan penjualan ritel yang terkontraksi 2% pada Desember, dibanding bulan sebelumnya turun 0,9% yoy. Ketidakpuasan publik Jepang atas kenaikan biaya hidup menjadi isu penting menjelang pemilu nasional yang akan digelar 8 Februari mendatang.
Sementara dari pasar domestik, pekan lalu dana global mencatat penjualan bersih surat utang pemerintah Indonesia senilai US$202 juta pada Rabu dan Kamis, arus keluar dua hari terbesar sejak Oktober, menurut data Kementerian Keuangan yang dirilis akhir pekan lalu. Aksi jual tersebut memangkas lebih dari setengah arus masuk sepanjang tahun berjalan (ytd) menjadi sekitar US$147 juta.
Tekanan ini muncul bersamaan dengan gejolak pasar saham, ketika indeks domestik sempat mencatat penurunan terdalam sejak Krisis Keuangan Asia, menyusul peringatan MSCI Inc. soal potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi frontier market jika transparansi tak membaik.
Guncangan itu juga merembet ke berbagai aset keuangan lain. Rupiah menghentikan penguatan terpanjangnya sejak Oktober, sementara imbal hasil surat utang pemerintah naik akibat aksi jual di pasar SUN.
Yield surat utang INDON bertenor 10Y naik 2.4 bps menjadi 5.01%, diikuti 30Y naik 2.6 bps menjadi 5.57% dan 20Y naik 2.1 bps menjadi 5.58%.
Sebenarnya, sentimen terhadap obligasi Indonesia sejatinya sudah rapuh sejak awal, dipicu kekhawatiran atas arah belanja fiskal dan isu independensi bank sentral. Hingga sekarang, pasar masih menanti bagaimana arah kebijakan domestik, di tengah perlambatan global, investor membutuhkan jangkar kepercayaan berupa disiplin fiskal, tata kelola yang transparan, dan komitmen kuat terhadap independensi otoritas moneter.
(riset/aji)






























