Saham BCA Resilien Meski Pasar Terpengaruh MSCI
Redaksi
30 January 2026 06:45

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA menunjukkan ketangguhan di tengah tekanan pasar saham nasional.
Pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026, saham BBCA berhasil berbalik arah dan ditutup menguat, meski sebelumnya sempat tertekan oleh sentimen global dan isu kebijakan indeks MSCI.
BBCA mengakhiri perdagangan dengan penguatan 2,49% ke level Rp7.200 per saham. Performa ini menjadi sorotan karena terjadi saat mayoritas saham berkapitalisasi besar masih bergerak volatil. Sepanjang perdagangan, saham BBCA sempat menyentuh level terendah Rp6.375 dan tertinggi Rp7.275 per saham.
Pergerakan tersebut mencerminkan rebound signifikan dari titik terendah intraday ke harga penutupan. Jika dihitung, kenaikan dari posisi terendah ke penutupan mencapai sekitar 12,9%. Hal ini menandakan adanya aksi beli yang agresif setelah tekanan jual mereda.
Dari sisi likuiditas, saham BBCA juga mencatatkan nilai transaksi yang sangat besar. Total nilai transaksi mencapai Rp9,8 triliun dalam satu hari perdagangan. Besarnya transaksi ini menegaskan bahwa BBCA menjadi salah satu saham paling aktif dan diperhatikan investor.
Penguatan saham BBCA turut membantu menahan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan. Mengingat bobot BBCA yang besar di IHSG, apresiasi harga saham ini mendorong perbaikan indeks setelah sempat terkoreksi hingga 10%. Pada akhir perdagangan, IHSG hanya mencatatkan koreksi harian sebesar 1,06%.
Tekanan pasar saham Indonesia dalam dua hari terakhir dipicu oleh sentimen negatif terkait sikap MSCI. Lembaga penyusun indeks global tersebut mempertanyakan transparansi free float sejumlah saham di Indonesia, yang kemudian memicu aksi jual besar-besaran di pasar.
Namun, sentimen mulai membaik setelah Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan rencana penetapan kebijakan free float minimum sebesar 15%. OJK juga menyatakan akan berkoordinasi dengan bursa dan SRO lainnya serta melakukan komunikasi intensif dengan MSCI, yang disambut positif oleh pelaku pasar.
Buyback dan Valuasi Jadi Katalis
Selain faktor sentimen eksternal, saham BBCA juga mendapatkan dorongan dari rencana aksi korporasi. BCA berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan dana yang disiapkan mencapai Rp5 triliun. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan.
Manajemen BCA juga memastikan bahwa pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu porsi saham publik. Emiten perbankan swasta tersebut menegaskan bahwa kepemilikan saham publik akan tetap sesuai ketentuan dan buyback tidak akan berdampak material terhadap operasional bisnis.
Sebagai informasi, jumlah saham BBCA yang dimiliki publik mencapai 52,17 miliar saham atau setara dengan 42,3%. Angka tersebut menunjukkan bahwa BBCA telah memenuhi ketentuan free float yang berlaku, sehingga relatif aman dari isu kebijakan tersebut.
Dari sisi kinerja, BBCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun sepanjang tahun 2025. Laba tersebut tumbuh hampir 5% secara tahunan di tengah kondisi industri perbankan yang masih menghadapi tantangan likuiditas dan perlambatan ekonomi.
Riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas yang ditulis oleh Victor Stefano menilai kinerja BBCA masih solid.
“Laba bersih BBCA tercatat sedikit lebih tinggi dari perkiraan kami dan masih sejalan dengan konsensus pasar. Di tengah arus keluar dana asing, potensi penurunan valuasi BBCA relatif terbatas karena secara price to book value saham ini telah turun ke dua standar deviasi di bawah rata-rata valuasi historisnya,” tulis Victor Stefano dalam laporan terbaru BRI Danareksa Sekuritas.
Pandangan positif juga datang dari IndoPremier Sekuritas. Perusahaan sekuritas tersebut menilai valuasi BBCA saat ini berada di level yang menarik secara historis, seiring dengan perbaikan kualitas aset yang konsisten.
“Valuasi BBCA saat ini berada di bawah rata-rata 10 tahun dan menjadi menarik di tengah perbaikan kualitas aset, tercermin dari Loan at Risk yang turun menjadi 4,8% serta rasio NPL yang terjaga di level 1,7% pada kuartal IV-2025,” tulis IndoPremier Sekuritas..
Kedua broker tersebut sama-sama merekomendasikan beli untuk saham BBCA. BRI Danareksa menetapkan target harga Rp11.400 per saham, naik dari target sebelumnya Rp10.800. Sementara itu, IndoPremier Sekuritas memasang target harga di level Rp10.600 per saham.
Dengan kombinasi rebound harga, dukungan aksi buyback, serta fundamental dan valuasi yang kuat, saham BBCA dinilai memiliki daya tahan yang solid di tengah volatilitas pasar. Pergerakan ini sekaligus mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas sektor perbankan nasional.


























