Logo Bloomberg Technoz

Kejatuhan IHSG yang begitu dalam merupakan efek secara langsung dari turunnya sejumlah saham big caps. Berikut daftarnya:

  1. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menekan 52,47 poin
  2. Bank Central Asia (BBCA) menekan 47,53 poin
  3. Barito Renewables Energy (BREN) menekan 43,64 poin
  4. Bumi Resources Minerals (BRMS) menekan 24,72 poin
  5. Bank Mandiri (BMRI) menekan 24,15 poin
  6. Telkom Indonesia (TLKM) menekan 23,22 poin
  7. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menekan 22,08 poin
  8. Barito Pacific (BRPT) menekan 19,85 poin
  9. DCI Indonesia (DCII) menekan 16,99 poin
  10. Mora Telematika Indonesia (MORA) menekan 15,31 poin

Risiko MSCI Picu Goldman dan UBS Pangkas Rating Saham RI

UBS menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight setelah MSCI menyampaikan kecemasannya terkait kelayakan investasi (investibility) dan memperingatkan adanya potensi reklasifikasi ke status pasar frontier–market

“Kami menilai tekanan (overhang) terhadap pasar secara keseluruhan kemungkinan akan tetap berlanjut hingga terdapat kejelasan mengenai regulasi serta hasil penilaian ulang dari MSCI,” tulis analis UBS, termasuk Sunil Tirumalai, dalam catatan terbarunya, mengutip Bloomberg.

Secara keseluruhan, kepemilikan saham Indonesia oleh investor global dan pasar berkembang Emerging–Market berada di level terendah (trough), meskipun masih berada pada posisi overweight, menurut UBS.

Adapun, Goldman Sachs Group Inc. juga menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, memperingatkan kecemasannya MSCI terkait kelayakan investasi dapat memicu arus keluar lebih dari US$13 miliar jika peringkat pasar diturunkan menjadi status Frontier Market.

Goldman Sachs memperhitungkan skenario ekstrem di mana Indonesia diklasifikasikan ulang dari pasar negara berkembang, dana pasif yang mengikuti MSCI berpotensi sell–off menjual hingga US$7,8 miliar. Arus keluar lebih lanjut sebesar US$5,6 miliar juga dapat dipicu jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free–float.

“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai beban yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis termasuk Timothy Moe dalam laporan.

(fad/aji)

No more pages