Rencana penempatan dana hingga US$14 miliar pada 2026, yang sebagian besar dibiayai dari dividen portofolio dan dialokasikan ke pasar domestik, menandai pergeseran menuju pembentukan modal yang berulang dan skalabel.
“Ini menurunkan friksi transaksi, memperjelas jalur ko investasi, dan memperkuat penyelarasan antara kapasitas negara dan modal swasta,” kata Shan Saeed.
Dari sisi pipeline, fokus kebijakan diarahkan ke sektor sektor yang memiliki keunggulan struktural seperti energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, dan ketahanan pangan.
Menurut Shan Saeed, sektor sektor tersebut memiliki permintaan jangka panjang, selaras dengan kebijakan, serta profil intensitas modal yang menarik.
“Sektor ini relatif lebih tahan terhadap volatilitas siklus dan cocok bagi modal yang berjangka panjang dan sabar,” ujarnya.
Dampaknya adalah visibilitas arus kas yang lebih baik dan meningkatnya keyakinan terhadap profil imbal hasil jangka menengah.
Aspek kredibilitas juga menjadi penopang utama. Shan Saeed menyoroti berbagai inisiatif pendanaan yang berorientasi pasar, termasuk penerbitan lanjutan obligasi Patriot, penyelarasan peringkat dengan kategori BBB, serta kemitraan investasi senilai sekitar US$45 miliar.
“Langkah langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap transparansi peringkat, disiplin neraca, dan kredibilitas institusional,” katanya. Menurutnya, hal tersebut berkontribusi menurunkan premi risiko baik di level kedaulatan maupun proyek.
Dalam kerangka makroekonomi, Presiden Prabowo secara konsisten memposisikan stabilitas sebagai aset ekonomi. Target pertumbuhan sekitar 5 hingga 6 persen pada 2026 dinilai sejalan dengan estimasi lembaga multilateral di kisaran 5,1 persen.
“Indonesia kini diposisikan sebagai alokasi inti pasar berkembang, bukan sekadar transaksi taktis,” ujar Shan Saeed.
Ia juga menekankan bahwa pasar global cenderung menghargai daya tahan reformasi dibanding kecepatan semata. Pendekatan pemerintahan Prabowo yang menekankan urutan kebijakan, kredibilitas, dan koherensi institusional dinilai memperkuat keberlanjutan reformasi sekaligus menjaga kepercayaan investor.
“Kepercayaan pasar menguat ketika jalur reformasi jelas, meski dilakukan bertahap,” katanya.
Dari sisi fiskal, kedisiplinan dalam menjaga defisit di sekitar batas legal 3 persen dari PDB dipandang sebagai sinyal yang memperkuat kredibilitas. Kerangka fiskal Indonesia dinilai tetap berfungsi sebagai jangkar stabilitas, bukan penghambat pertumbuhan.
Shan Saeed menilai keseimbangan antara stabilitas dan terobosan pertumbuhan dicapai melalui pengelolaan fiskal berbasis aturan, independensi Bank Indonesia, pengelolaan Danantara yang berorientasi pasar, serta percepatan perizinan dan eksekusi proyek.
Secara keseluruhan, Shan Saeed melihat ekonomi Indonesia bergerak dari peluang yang episodik menuju investabilitas yang sistemik.
“Stabilitas tidak diperlakukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai platform untuk akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dengan skala ekonomi yang besar, kredibilitas kebijakan, dan kedalaman institusi yang meningkat, Indonesia dinilai berada di antara tujuan investasi jangka menengah paling menarik di semesta pasar berkembang global.
Ia menegaskan, di tengah fragmentasi ekonomi dunia, kombinasi skala stabilitas dan kredibilitas membuat Indonesia tetap berada kuat dalam radar investor global dan berada pada lintasan pertumbuhan yang solid.
(red)






























