“Dalam forum tersebut, dibahas berbagai isu strategis yang bersifat umum dan lintas sektor, termasuk peluang pengembangan bisnis ke depan. Namun demikian, terkait dengan proyek atau inisiatif tertentu, termasuk ekosistem baterai, saat ini masih dalam tahap pembahasan internal dan koordinasi antar pihak terkait,” ungkap Wisnu.
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menggelar rapat terbatas dengan Direktur Utama Antam Untung Budiharto dan Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif.
Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas hilirisasi nikel, termasuk peran anak usaha Antam yakni PT Nusa Karya Arindo (NKA) selaku pemegang izin usaha pertambangan (IUP) nikel, hingga konektivitas hulu-hilir ekosistem industri baterai Indonesia.
“Kami membahas penguatan hilirisasi nikel, mulai dari peran PT Nusa Karya Arindo [NKA] sebagai pemegang IUP di sisi hulu, hingga konektivitas hulu-hilir sebagai fondasi ekosistem industri baterai nasional,” tulis Rosan dalam akun Instagram resminya, dikutip Rabu (14/1/2026).
Lebih lanjut, Rosan menegaskan Danantara siap mendorong investasi jangka panjang dalam sektor tersebut.
“Melalui Danantara, kami mendorong investasi jangka panjang dengan tata kelola yang kuat dan prinsip keberlanjutan, agar nilai strategis sumber daya Indonesia tumbuh dan tetap berada di dalam negeri,” tegas dia.
Adapun, Proyek Titan dirancang sebagai ekosistem baterai terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari tambang, smelter nikel nikel berbasis high pressure acid leach (HPAL), prekursor, katoda, hingga pabrik sel baterai dan fasilitas daur ulang.
Namun, hingga kini, posisi dan porsi Indonesia dalam proyek tersebut masih belum final. Kementerian ESDM sebelumnya menjelaskan bahwa BUMN melalui Antam memegang kendali 51% di lini hulu proyek tersebut.
Akan tetapi, di lini antara dan hilir, porsi Indonesia melalui IBC hanya di angka 30%. Pemerintah saat ini tengah berupaya menegosiasikan peningkatan kepemilikan di lini hilir BUMN di Proyek Titan melalui partisipasi Danantara.
Groundbreaking proyek tersebut sempat ditargetkan dilakukan pada akhir 2025, tetapi hingga kini masih belum terdapat kepastian ihwal peletakan batu pertama proyek ekosistem baterai mobil listrik tersebut.
Di sisi lain, Antam dan IBC juga terlibat dalam proyek pabrik baterai listrik terintegrasi garapan konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) yakni Proyek Dragon.
Pabrik baterai mobil listrik terintegrasi besutan CATL tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada semester I-2026.
Investasi raksasa baterai China itu pada Proyek Dragon dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandantangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai setrum itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi rotary kiln electric furnace (RKEF) dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau HPAL.
Selanjutnya, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(azr/wdh)































