Selain itu, opsi integrasi Garuda Grup dengan Pelita Air juga dipandang sebagai upaya mengurangi redudansi dan meningkatkan sinergi khususnya dalam pengadaan bahan bakar.
Sementara itu, Krakatau Steel menerima dukungan pendanaan Rp4,93 triliun yang ditujukan untuk memperbaiki struktur permodalan, menurunkan beban bunga, serta meredakan tekanan arus kas.
Danantara menilai restrukturisasi di KRAS masih sangat dipengaruhi oleh kondisi neraca, mengingat tingginya beban utang dan warisan investasi lama. Namun, langkah-langkah penyehatan yang telah dilakukan disebut mulai memberikan dampak terhadap stabilisasi keuangan perseroan.
Untuk sektor pertambangan, Danantara menyoroti PT Timah sebagai BUMN yang prospeknya didukung oleh perbaikan tata kelola sektor. Pengetatan penegakan hukum terhadap aktivitas penambangan ilegal dinilai mengurangi kebocoran dan meningkatkan kepastian usaha, yang pada gilirannya tercermin dalam persepsi pasar terhadap kinerja perseroan.
Sementara itu, prospek BUMN konstruksi dipandang sangat bergantung pada keberhasilan konsolidasi dan penataan ulang struktur keuangan.
Danantara mencatat penggabungan sejumlah BUMN konstruksi bertujuan memperbaiki tata kelola, memisahkan kewajiban (ringfencing), serta meningkatkan kualitas seleksi proyek. Setelah proses tersebut berjalan, sektor konstruksi diharapkan dapat kembali mengakses pasar modal dengan rencana pendanaan yang lebih kredibel.
“Jika restrukturisasi mampu memperbaiki ritme operasional dan ketahanan neraca, dampaknya terhadap persepsi investor atas BUMN secara keseluruhan berpotensi signifikan,” tulis laporan tersebut.
Di luar restrukturisasi, Danantara juga menyoroti pentingnya pembangunan ekosistem BUMN. Peluncuran bank bullion pertama di Indonesia, yang melibatkan BUMN seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pegadaian, dan Bank Syariah Indonesia, menunjukkan upaya memperkuat intermediasi keuangan domestik untuk komoditas strategis.
Berbeda dengan BUMN non-bank, Danantara menilai prospek bank-bank Himbara tidak lagi berfokus pada isu risiko struktural, melainkan pada kualitas laba dan efisiensi.
Untuk BMRI, prospek dipandang didukung oleh pemulihan permintaan pembiayaan korporasi dan stabilisasi biaya dana. BBNI dinilai berada dalam fase konsolidasi kinerja dengan fokus pada perbaikan struktur pendanaan dan kualitas aset. Adapun BBRI diposisikan untuk menangkap pertumbuhan kredit yang lebih berkelanjutan, dengan perhatian pasar tertuju pada efisiensi intermediasi dan disiplin alokasi modal.
(dhf)






























