Selain itu, ada pula prospek fundamental pasar minyak yang secara umum dinilai sudah kelebihan pasokan.
“Saat ini, belanja modal global di sektor minyak menurun karena pasokan melimpah dan permintaan lebih rendah dari perkiraan,” kata Edward Morse, penasihat Hartree Partners dan mantan kepala riset komoditas global di Citigroup Inc.
“Venezuela mencoba membuka kembali industrinya pada saat siklus sedang turun, bukan naik.”
Di balik semua itu, muncul serangkaian tema investasi turunan di luar sektor minyak, mulai dari pasar komoditas lain hingga obligasi dan valuta asing yang masing-masing memiliki risiko tersendiri.
Berikut adalah panduan tentang bagaimana para investor menyikapi peluang mendadak yang tercipta dari keputusan Trump untuk menggulingkan Nicolás Maduro, pemimpin lama Venezuela, dan mengklaim apa yang disebut-sebut sebagai cadangan minyak terbesar di dunia.
Bertaruh pada Minyak
Visi Trump mencakup dorongan agar perusahaan AS membangun kembali infrastruktur minyak Venezuela yang telah rusak dan menghidupkan kembali produksi.
Sebagai langkah awal, Trump mengatakan pada Selasa bahwa Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS untuk dijual, dengan nilai sekitar US$3 miliar pada harga saat ini.
Dalam jangka panjang, harapan presiden adalah agar perusahaan AS membangun kembali infrastruktur produksi minyak yang hancur setelah bertahun-tahun kurangnya investasi, korupsi, dan salah urus di bawah pemerintahan Maduro dan pendahulunya, Hugo Chávez.
Periode tersebut juga ditandai dengan tersingkirnya sejumlah produsen minyak asing, yang berujung pada penurunan tajam produksi minyak mentah.
Chevron Corp. saat ini merupakan satu-satunya produsen besar AS yang masih beroperasi di Venezuela, sehingga secara alami memiliki keunggulan awal jika Trump mampu mewujudkan tujuannya.
Perusahaan itu berpotensi meningkatkan arus kas hingga US$700 juta per tahun jika produksi Venezuela kembali ke level sebelumnya, menurut Jason Gabelman, analis di TD Cowen.
Exxon Mobil Corp. dan ConocoPhillips sebelumnya beroperasi di negara tersebut, tetapi hengkang pada awal 2000-an. Aset mereka disita, dan ConocoPhillips berhak atas lebih dari US$8 miliar berdasarkan putusan arbitrase dengan Venezuela, sementara Exxon sekitar US$1 miliar.
Harapan bahwa rezim baru di Venezuela dapat membantu pemulihan dana tersebut meredup pada Jumat, ketika Trump mengatakan AS tidak akan mempertimbangkan kerugian masa lalu yang dialami perusahaan-perusahaan itu.
Hal ini makin mempersulit prospek kebangkitan industri yang sejak awal sudah diperkirakan mahal dan memakan waktu lama. Para ahli meyakini bahwa memulihkan Venezuela ke kejayaannya sebagai produsen energi dapat menelan biaya hingga US$100 miliar selama dekade mendatang.
Para eksekutif minyak AS menyuarakan kehati-hatian dalam pertemuan dengan Trump pada Jumat, dengan kepala Exxon Mobil Corp. menyebut negara tersebut saat ini sebagai “tidak layak untuk investasi.”
Dengan harga minyak berada di kisaran US$60 per barel, sebagian investor meragukan ketersediaan modal yang dibutuhkan.
“Harga minyak harus naik jauh lebih tinggi untuk mendorong orang mengucurkan lebih banyak modal,” kata Cole Smead, CEO dan presiden Smead Capital Management.
“Mereka tidak akan melakukannya kecuali mendapat imbal hasil yang sangat menarik, karena harus lebih menarik daripada AI. Ini sama sekali tidak semenarik itu.”
Meski demikian, jika ada kemajuan dalam menghimpun investasi yang dibutuhkan serta jaminan hukum dan keamanan yang diperlukan, perusahaan jasa ladang minyak seperti Baker Hughes Co., Halliburton Co., dan Weatherford International Plc menjadi area utama yang patut diperhatikan.
Kapasitas Kilang
Salah satu peluang paling menarik adalah siapa yang akan mengilangkan minyak berat Venezuela, dan para investor telah mendorong saham sejumlah pengilang AS naik.
Sekitar 140 juta barel minyak mentah Venezuela diproses di kilang AS pada 2025, atau sekitar 0,8% dari total throughput AS, menurut Tudor Pickering Holt & Co. Aliran yang lebih besar ke AS akan menguntungkan pengilang kompleks seperti Valero Energy Corp. dan PBF Energy Inc., menurut Bloomberg Intelligence.
Minyak berat Venezuela juga memerlukan diluen impor untuk diproduksi dan diangkut, sehingga menciptakan potensi kenaikan bagi perusahaan seperti Phillips 66.
Investor juga disarankan mencermati pemilik kapal tanker seperti DHT Holdings Inc. dan Frontline Plc., menurut Dwight Anderson, managing partner Ospraie Management, sebuah hedge fund yang berinvestasi di komoditas dan derivatif.
Potensi Chevron menyewa kapal yang patuh aturan untuk menggantikan armada bayangan yang digunakan menghindari sanksi AS dapat menguntungkan operator resmi, tambahnya.
Risiko Minyak Kanada
Risiko juga membayangi produsen minyak Kanada. Negara tersebut mengekspor sebagian besar minyak mentahnya ke AS, dan Venezuela memproduksi jenis minyak yang serupa.
“Spread minyak ringan–berat bisa melebar, yang akan merugikan sektor pasir minyak Kanada, terutama perusahaan yang kurang terintegrasi,” tulis analis Hedgeye Risk Management, Fernando Valle, dalam sebuah catatan.
Valle memperkirakan Imperial Oil Ltd. dan Cenovus Energy Inc. akan lebih terdampak dibandingkan Suncor Energy Inc. atau Canadian Natural Resources Ltd.
Sumber Daya Tambang
Ini bukan semata soal minyak. Venezuela memiliki beberapa cadangan emas terbesar di Belahan Barat, serta bauksit, coltan, batu bara, tembaga, dan bijih besi. Perusahaan yang mungkin tertarik menambang mineral-mineral tersebut antara lain Glencore Plc, Rio Tinto Plc, dan Alcoa Corp., menurut Anderson dari Ospraie.
Namun investor yang berharap meraih keuntungan cepat kemungkinan akan kecewa. Industri pertambangan Venezuela kekurangan data terkini, dan sejumlah tambang telah diambil alih oleh kartel kriminal, di antara berbagai masalah lainnya.
“Masalahnya adalah infrastruktur berada dalam kondisi yang sangat buruk sehingga butuh waktu bertahun-tahun untuk memperbaikinya, jadi kemungkinan baru bisa berjalan di 2028–2030,” kata Anderson.
Membangun Infrastruktur
Infrastruktur dipandang sebagai peluang awal namun berjangka panjang bagi investor ekuitas yang sabar.
“Sejarah menunjukkan kisah pascakrisis di Irak, pascaperdamaian di Kolombia, atau pasca-apartheid di Afrika Selatan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum pasar lokal benar-benar memberi imbal hasil kepada investor saham,” kata Oscar Decotelli, pendiri dan ketua DXA Group, perusahaan investasi yang beroperasi di Amerika Latin dan AS.
Decotelli menyukai perusahaan energi regional, infrastruktur, dan aset riil berkualitas tinggi dengan eksposur tidak langsung ke Venezuela, sambil memperlakukan investasi langsung sebagai opsi jangka panjang, bukan kepemilikan inti.
Decotelli menunjuk Equinix Inc. sebagai pihak yang berpotensi diuntungkan dari peningkatan belanja infrastruktur digital, serta utilitas dan perusahaan logistik Amerika Latin seperti Centrais Elétricas Brasileiras SA, Equatorial SA, dan Rumo SA.
“Ini bukan soal buru-buru masuk ke Venezuela,” ujarnya. “Ini soal memposisikan diri di sekitar Venezuela.”
Belanja Pertahanan
Meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah penangkapan Maduro, serta dorongan Trump untuk meningkatkan anggaran militer AS, telah memicu reli global saham-saham pertahanan.
Lockheed Martin Corp., RTX Corp., Northrop Grumman Corp., Elbit Systems Ltd., dan General Dynamics Corp. berpotensi menjadi penerima manfaat, tulis David Miller, kepala investasi Catalyst Funds.
Ekspor Pangan
Meski Venezuela merupakan pasar pertanian yang relatif kecil bagi eksportir AS, sebagian investor mempertimbangkan peluang di produsen pangan global dan perusahaan agribisnis Amerika Latin jika ekonomi Venezuela pulih.
Decotelli menunjuk saham seperti Bunge Global SA dan Archer-Daniels-Midland Co. sebagai pihak yang diuntungkan dari pergeseran perdagangan regional.
Obligasi Venezuela
Lengsernya Maduro telah mendorong reli tajam pada tumpukan utang gagal bayar senilai US$60 miliar milik Venezuela dan perusahaan minyak negaranya.
Sejumlah investor yang membeli obligasi tersebut dengan harga sangat murah dalam beberapa tahun terakhir mulai merealisasikan keuntungan, dengan harga rata-rata kini sekitar 30 sen per dolar.
Meski demikian, nilai pemulihan yang lebih tinggi masih mungkin terjadi dalam restrukturisasi utang di masa depan.
“Mereka akan menjalankannya secara agresif,” kata Ray Zucaro, kepala investasi RVX Asset Management.
“Mereka ingin mengaktifkan kembali semuanya. Saya rasa itu tidak buruk bagi keuangan Venezuela.”
Investor pasar berkembang senior Mark Mobius mengatakan obligasi yang terkait dengan aset minyak Venezuela menawarkan peluang paling menarik bagi investor asing.
Surat berharga yang terkait dengan Petróleos de Venezuela S.A. dan Citgo Petroleum Corp. — pengilang berbasis di AS yang sebagian dimiliki perusahaan minyak negara Venezuela — dinilainya sangat menarik.
Prospek Makro
Jika ditarik lebih luas dari Venezuela, gejolak ini juga berdampak bagi investor berorientasi makro.
Sebagai contoh, meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat memicu posisi opsi bullish pada dolar AS, kata ahli strategi Wells Fargo, Aroop Chatterjee.
Jika Trump berhasil meningkatkan produksi minyak secara signifikan, hal itu dapat menekan harga minyak mentah dan memangkas laba perusahaan minyak besar.
Di sisi lain, harga energi yang lebih rendah berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen dan selera terhadap risiko.
Sejak 1983, indeks S&P 500 mencatat kenaikan rata-rata 11,8% pada tahun setelah periode ketika harga minyak berada di level terendah antara US$10 hingga US$30 per barel dan rata-rata 13% pada tahun setelah minyak diperdagangkan di kisaran US$30–US$50, menurut data Bloomberg Intelligence.
Namun, dengan Indeks S&P 500 diperdagangkan mendekati rekor tertinggi setelah reli tiga tahun, sebagian pengamat pasar memperingatkan bahwa ruang untuk menyerap guncangan mendadak semakin menyempit.
Hal ini mendorong sebagian investor mempertimbangkan lindung nilai taktis. Indeks Volatilitas CBOE, atau VIX, berada di sekitar 15, tanda sikap pasar yang relatif lengah meskipun risiko geopolitik meningkat.
“Ini adalah titik masuk yang menarik untuk melakukan lindung nilai terhadap potensi penurunan saham dan lonjakan volatilitas,” kata Frank Monkam, kepala perdagangan makro di Buffalo Bayou Commodities.
(bbn)
































