Logo Bloomberg Technoz

Faktor kedua adalah meningkatnya paparan patogen berbasis air saat banjir. Limpasan air membawa kontaminasi feses dan urin hewan maupun manusia yang memicu penyakit seperti diare, penyakit kulit, dan leptospirosis. 

“Risiko ini meningkat terutama pascabanjir,” ujar Dicky.

Ketiga, risiko non-infeksi juga ikut naik, mulai dari cedera, tenggelam, trauma, hingga tersengat listrik. Selain itu, hujan ekstrem dan banjir dapat mengganggu akses layanan kesehatan dan distribusi obat. “Secara historis, Indonesia selalu mengalami penyakit pascahujan seperti DBD, leptospirosis, dan diare,” katanya.

Selain penyakit fisik, Dicky menyoroti dampak psikososial yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga risiko kekerasan berbasis gender dapat meningkat, terutama di permukiman padat dan lokasi pengungsian. “Ini harus masuk dalam respons kesehatan,” tegasnya.

Untuk mitigasi, Dicky mendorong langkah antisipasi dari level rumah tangga. Ia mengingatkan pentingnya 3M dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mingguan, pengamanan air minum dan makanan, serta kesiapan obat dasar seperti oralit. “Kalau diare lebih dari tiga sampai empat kali, itu sudah harus disikapi serius,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat menghindari kontak langsung dengan air banjir guna mencegah leptospirosis. “Gunakan sepatu bot atau sarung tangan, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul demam, nyeri betis, atau mata kemerahan,” kata Dicky. 

Kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis diminta menyiapkan obat esensial untuk beberapa minggu.
Di tingkat komunitas dan pemerintah daerah, Dicky menekankan pentingnya peringatan dini, pengelolaan saluran air dan sampah, pengendalian tikus, serta kesiapan fasilitas kesehatan. 

“Deteksi dini kenaikan kasus demam akut dan diare, kesiapan klinis DBD, hingga logistik seperti air bersih dan listrik cadangan sangat krusial agar dampak kesehatan musim hujan bisa ditekan,” tutupnya.

(dec/spt)

No more pages