Langkah Beijing ini menandai eskalasi terbaru dalam perselisihan mengenai pernyataan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi tentang Taiwan yang telah berlangsung sejak awal November.
Sehari sebelumnya, Beijing mengumumkan pembatasan ekspor terhadap barang-barang yang ditujukan ke Jepang yang berpotensi memiliki kegunaan militer.
Kekhawatiran atas potensi dampak terhadap industri-industri utama Jepang telah menurunkan harga saham produsen mobil, sekaligus meningkatkan harga saham terkait logam tanah jarang, meski bagaimana China akan benar-benar menerapkan kontrol tersebut masih belum jelas.
Kementerian Luar Negeri Jepang melayangkan protes resmi kepada Wakil Kepala Misi China, Shi Yong, atas pembatasan ekspor Beijing.
Menurut Takahide Kiuchi, ekonom eksekutif Nomura Research Institute, perkiraan kasar menunjukkan bahwa barang-barang dwiguna yang diimpor Jepang dari China mencapai ¥10,7 triliun (US$68,4 miliar), kira-kira 42% dari total impor barang Jepang dari China pada tahun 2024.
"Tindakan ini hanya menargetkan negara kami dan menyimpang secara signifikan dari praktik internasional," kata Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara kepada wartawan, sambil menambahkan bahwa langkah China tersebut tidak dapat diterima.
"Kami berencana untuk memeriksa dan menganalisis detailnya dengan cermat, serta mempertimbangkan respons yang diperlukan," ujarnya.
Surat kabar milik pemerintah, China Daily, melaporkan Beijing sedang mempertimbangkan untuk memperketat tinjauan izin ekspor barang-barang terkait logam tanah jarang menengah dan berat tertentu.
Selain sebagai bahan baku penting untuk baterai dan elektronik komersial, logam tanah jarang banyak digunakan dalam peralatan militer, termasuk magnet berdaya tinggi yang digunakan dalam sistem panduan rudal dan mesin jet tempur.
Pembatasan pasokan logam tanah jarang telah lama diangkat sebagai salah satu cara potensial bagi Beijing untuk menekan Tokyo, terutama setelah China memanfaatkan dominasinya di industri ini tahun lalu untuk menentang tarif AS.
Ahli strategi investasi senior Mitsubishi UFJ Morgan Stanley, Kohei Onishi memandang gangguan rantai pasokan seperti yang terjadi dalam ketegangan AS-China pada 2021-2022 mengingatkan produsen akan perlunya diversifikasi pasokan dari China. Saham perusahaan terkait logam tanah jarang, Toyo Engineering Corp, melesat hingga 20% pada Selasa, sedangkan Toyota Motor Corp turun hingga 3%, terbesar sejak awal November.
Organisasi Jepang untuk Keamanan Logam dan Energi mengatakan Jepang bergantung pada China atas sekitar 70% impor logam tanah jarang pada 2024. Hal ini terjadi lebih dari satu dekade setelah China menggunakan material tersebut sebagai senjata melawan Tokyo selama sengketa teritorial pada 2010. Pada saat itu, langkah China menimbulkan kekacauan di seluruh industri manufaktur Jepang.
Kiuchi dari Nomura menulis bahwa jika pembatasan baru diterapkan pada logam tanah jarang, Jepang akan mengalami dampak signifikan. Jika pembatasan ekspor logam tanah jarang berlangsung selama tiga bulan, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai sekitar ¥660 miliar, mengurangi produksi ekonomi Jepang sebesar 0,11%.
Aksi terbaru ini mungkin meluas jauh melampaui pasokan logam tanah jarang. Daftar kontrol ekspor barang dwiguna China mencakup lebih dari 800 jenis, mulai dari bahan kimia, elektronik, dan sensor hingga peralatan dan teknologi yang digunakan dalam industri pelayaran dan dirgantara.
Tindakan perdagangan ini terjadi di tengah ketegangan diplomatik, setelah PM Takaichi awal November mengisyaratkan bahwa Tokyo bisa mengerahkan militernya jika China menggunakan kekuatan untuk mencoba merebut Taiwan. Beijing bereaksi marah dan menuntut Takaichi menarik pernyataannya. Dia menolak, mengatakan bahwa sikap Jepang atas Taiwan tetap tidak berubah.
(bbn)



























