Tulisan tersebut juga memaparkan alasan perlunya eskalasi hukuman terhadap Rusia, dengan menggunakan argumen yang bersifat personal bagi sang presiden.
“Seperti yang ia lakukan di Alaska, Putin ditawari perdamaian dan justru meludahi wajah Amerika,” tulis editorial Post, seraya menambahkan bahwa “Vladimir Putin bukanlah perantara jujur yang bisa diajak berpikir masuk akal, apalagi peluang bisnis yang bisa dibuka.”
Surat kabar itu juga menyinggung dukungan Rusia terhadap Iran serta sokongannya kepada kepemimpinan Venezuela, untuk menegaskan bahwa “di seluruh dunia, Rusia justru menentang agenda Trump.”
“Jawabannya bukanlah lebih banyak konsesi, melainkan tongkat yang lebih besar,” tulis editorial tersebut. “Kyiv telah melakukan bagiannya. Kini tanggung jawab ada pada Putin untuk melangkah maju atau menghadapi sanksi yang lebih keras serta persenjataan yang lebih mematikan bagi Ukraina.”
Ukraina telah membantah tuduhan serangan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa Rusia untuk menggagalkan perundingan damai. Namun, Trump mengatakan kepada wartawan awal pekan ini bahwa dirinya merasa “sangat marah” atas insiden yang diklaim itu.
“Menyerang secara ofensif itu satu hal, karena memang mereka ofensif,” kata Trump. “Tapi menyerang rumahnya itu hal lain. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal semacam itu.”
Editorial Post secara tegas menolak penjelasan Rusia, dengan menyatakan bahwa “akal sehat mengarah pada kesimpulan bahwa ini adalah narasi yang direkayasa atau dilebih-lebihkan untuk memberi Rusia alasan menolak kemajuan yang dicapai Trump.”
Editorial tersebut ditutup dengan kalimat: “Simpan saja air mata buaya itu, dan tingkatkan tekanannya.”
(bbn)



























