Sementara, sepanjang tahun nilai tukar rupiah cenderung melorot dari posisi Rp16.102/US$ pada penutupan tahun 2024, hingga posisi penutupan akhir tahun 2025 di posisi Rp16.690/US$. Capaian ini membuat rupiah menjadi mata uang terlemah kedua di Asia sepanjang 2025.
Meski begitu, apresiasi rupiah sore ini bisa jadi refleksi atas penyesuaian posisi para investor dan arus masuk jangka pendek, termasuk dari pasar obligasi. Menurut Wee Khoon Chong, ahli strategi dari Bank of New York penguatan ini berpotensi sebagai reli lanjutan atau catch up rally di tengah volume perdagangan yang menipis. Dia menilai prospek rupiah tetap positif, ditopang oleh arus modal yang masuk dan profil defisit yang masih terkelola di bawah 3%.
Walaupun rupiah mencatat penguatan signifikan sore ini, kinerjanya sepanjang tahun 2025 masih tertinggal jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia dan baht Thailand justri jadi pemimpin penguatan sepanjang tahun, sedangkan rupiah dan rupee India termasuk kelompok mata uang yang berkinerja paling lemah.
Kinerja mata uang Asia sepanjang tahun 2025 terdompleng oleh beberapa faktor kebijakan dna kondisi geopolitik yang membuat dolar kehilangan daya tarik sebagai aset lindung nilai. "Pelemahan dolar AS juga mencerminkan turunnya kredibilitas kebijakan AS, khususnya akibat upaya Presiden Donald Trump mendorong tarif perdagangan secara agresif," kata Shaun Lin, ahli strategi valuta asing di Malayan Banking Berhad, seperti dikutip Bloomberg News, (31/12/2025).
Secara struktural, tantangan penguatan rupiah ke depan masih ada. Misalnya, kinerja ekspor yang diproyeksikan masih melemah sementara kinerja impor akan mulai pulih serta surplus neraca perdagangan yang berisiko menyempit di awal tahun 2026.
Di saat yang sama, tantangan juga datang dari pasar surat utang. Melansir data Bloomberg menunjukkan bahwa kepemilikan asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tren penurunan sepanjang 2025. Keluarnya dana asing dari pasar Indonesia tak lepas dari kekhawatiran pasar terkait beberapa kebijakan fiskal yang cenderung kontroversial, termasuk mengedepankan anggaran setara 14% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk program populis, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Turunnya kepemilikan investor asing dalam pasar surat utang Indonesia dapat membuat salah satu penopang utama stabilitas rupiah lepas. Jadi, penguatan rupiah sore ini belum mencerminkan perbaikan struktural. Selama pasokan devisa dari sektor riil belum menguat dan Indonesia masih mengandalkan arus portofolio asing yang masuk ke pasar domestik, rupiah akan tetap sensitif terhadap sentimen global.
Namun, setidaknya penguatan dalam penutupan sore ini bisa memberi ruang bernapas bagi Bank Indonesia (BI). Ruang pelonggaran moneter juga mungkin masih terbuka seiring inflasi yang terkendali. Dan BI agaknya akan tetap memasang mode defensif di tahun depan, dengan tetap menjaga stablitas nilai tukar sebelum mengejar stimulus agresif.
(riset/aji)




























