Jika pemerintah Indonesia melanjutkan program B50, harga dapat naik hingga 5.000 ringgit per ton pada periode Januari–Juni, ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono kepada Bloomberg News menjelang konferensi industri di Bali pekan ini.
Di dalam negeri, kebijakan ini juga bisa diikuti oleh kenaikan pungutan ekspor yang kemungkinan besar akan ditanggung oleh para petani kecil, tambahnya.
Secara global, kebijakan ini berarti konsumen mungkin harus mencari sumber pasokan lain karena Indonesia secara signifikan akan membatasi ekspor demi memenuhi kebutuhan campuran biodiesel yang lebih tinggi di dalam negeri, kata Matthew Biggin, analis komoditas senior di BMI.
“Langkah ini akan memerlukan intervensi pemerintah untuk memprioritaskan produksi biodiesel domestik dibanding ekspor, yang kemungkinan akan memengaruhi pasar impor utama seperti India dan China, sehingga mereka harus mencari sumber alternatif,” ujarnya.
Waktu pelaksanaan program ini akan menjadi faktor krusial dalam menentukan arah pasar dan akan menjadi sorotan utama dalam konferensi Gapki pekan ini. Pedagang senior Dorab Mistry, Direktur Godrej International Ltd., sebelumnya memperkirakan langkah tersebut akan mendorong harga sawit ke level tertinggi dalam tiga tahun, yakni 5.500 ringgit pada kuartal pertama 2026.
Otoritas Indonesia telah menyelesaikan uji laboratorium untuk campuran B50, namun uji keselamatan di jalan raya belum dimulai. Sekretaris Jenderal Gapki M. Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan, perluasan mandat tersebut akan meningkatkan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel hingga seperempat, dan berpotensi memangkas total ekspor sawit Indonesia menjadi 26 juta ton pada 2026, dari perkiraan 31 juta ton tahun ini.
Industri juga mewaspadai risiko pasokan lain seperti faktor cuaca. Prakiraan menunjukkan potensi terjadinya fenomena La Niña, yang dapat membawa curah hujan di atas rata-rata dan mengganggu panen serta produksi sawit antara November hingga Februari.
Faktor lain yang dapat menggerakkan pasar mencakup kesepakatan perdagangan pertanian antara China dan AS, kebijakan biofuel AS yang bisa membatasi ekspor minyak kedelai negara tersebut, serta tingkat stok minyak nabati lainnya seperti bunga matahari dan kanola.
Selain itu, penyitaan ratusan ribu hektare lahan perkebunan oleh pemerintah Indonesia menimbulkan kekhawatiran bahwa pengelolaan yang tidak tepat dapat menyebabkan penurunan produksi nasional tahun depan, kata Sahat Sinaga, Pelaksana Tugas Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia.
Semua faktor ini menciptakan prospek yang positif bagi harga minyak sawit, ujar Jacquelyn Yow, Associate Director riset di CGS International Securities Group.
“Implementasi penuh B50 kemungkinan dimulai pada Juni tahun depan,” kata Yow. “Garis waktu ini dapat meningkatkan permintaan biodiesel sebesar 1,7 juta ton, sehingga total konsumsi biofuel Indonesia mencapai 15,6 juta ton, sekitar 18% dari konsumsi minyak sawit global, dibanding 17% di bawah B40 tahun ini. Ini akan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi harga,” ujarnya.
(bbn)






























