Kondisi ini berpotensi menempatkan industri gas pada jalur yang lebih berkelanjutan, kata mereka, di tengah pasar global yang kian kelebihan pasokan sementara China terus memperluas kapasitas impornya.
Badan Energi Nasional (NEA) memperkirakan negara dengan konsumsi gas terbesar di dunia itu akan mencatat pertumbuhan permintaan paling lambat dalam sejarah, hanya sekitar 2%–3% tahun ini.
Seluruh kebutuhan tambahan itu akan dipenuhi oleh produksi domestik dan pasokan gas melalui pipa dari Rusia serta Asia Tengah, ujar para sumber.
Ekonomi Melambat
Pelemahan ekonomi China menjadi faktor utama yang menekan konsumsi energi. Meskipun cuaca dingin ekstrem masih berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar pemanas, fenomena La Niña tahun ini tergolong lemah dan diperkirakan tidak akan mengubah tren kenaikan suhu secara keseluruhan.
Faktor geopolitik juga ikut berperan. Para pembeli utama di China telah mengisi tangki LNG hingga 80% kapasitas untuk mengurangi persaingan dengan pasar Eropa yang bergejolak selama musim dingin, kata sumber tersebut.
Meskipun China tetap mengimpor gas Rusia yang terkena sanksi, pembatasan tersebut menambah kehati-hatian di kalangan importir.
Selain itu, potensi ketidakstabilan di jalur pelayaran Timur Tengah dan memburuknya hubungan dagang dengan Amerika Serikat membuat pembeli makin menghindari pembelian mendadak di pasar spot, tambah mereka.
Meski demikian, China telah berinvestasi besar untuk membiarkan pasar LNG melemah.
Gas tetap dipandang sebagai penopang penting bagi energi terbarukan intermiten, dan industri telah melobi pemerintah agar secara signifikan meningkatkan jumlah pembangkit listrik berbasis gas dalam rencana lima tahun berikutnya.
Dengan dukungan harga yang secara struktural lebih rendah, LNG diperkirakan akan menjadi bagian dari ekspansi tersebut.
Kapasitas fasilitas impor diproyeksikan naik menjadi 250 juta ton per tahun pada 2030, dari sekitar 150 juta ton saat ini, menurut para sumber.
(bbn)






























