Dengan kecepatan awal unduh (download) 42 megabit per detik (Mbps) dan unggah (upload) 10,5 Mbps, Starlink menawarkan alternatif kuat untuk koneksi nirkabel yang ada. “Namun dalam setahun, peningkatan pesat ini membebani kapasitasnya: unduhan turun hampir dua pertiga, unggahan turun hampir setengahnya, dan skor pengalaman menggunakan video turun lima poin,” ungkap OpenSignal.
Penyebab penurunan kecepatan tersebut adalah kemacetan, di mana terdapat permintaan yang melonjak begitu cepat, sehingga Starlink terpaksa menghentikan sementara pendaftaran pelanggan baru.
Saat layanan internet tersebut dilanjutkan pada Juli 2025, pelanggan baru menghadapi “biaya lonjakan permintaan” yang tinggi, berkisar antara US$490 hingga US$574 atau setara dengan Rp8,1 juta sampai Rp9,5 juta (asumsi kurs Rp16.643/US$), tergantung pada gateway-nya — perangkat dalam jaringan yang biasa digunakan untuk menghubungkan antara satu perangkat dengan perangkat lainnya. Jumlah tersebut kira-kira tiga kali lipat rerata upah bulanan di Indonesia yang senilai Rp3,09 juta.
Dalam praktiknya, hal ini berarti konsumen yang berminat harus membayar biaya awal yang tinggi di muka atau menunggu hingga permintaan menurun. Akan tetapi, tak semua tren Starlink di Indonesia negatif, misalnya konsistensi kualitas naik dari 24,2% menjadi 30,9% selama periode yang sama.
“Meskipun kecepatannya lebih lambat, peningkatan Starlink dari tahun ke tahun dalam metrik ini mencerminkan latensi yang lebih rendah dan peningkatan infrastruktur,” kata OpenSignal.
Membandingkan Starlink dengan FWA
Starlink telah menunjukkan tanda-tanda kemajuan absolut dalam hal konsistensi kualitas, namun ada ujian sesungguhnya terletak pada perbandingannya dengan alternatif lokal seperti FWA, yang sudah menjadi bagian penting dari strategi digital Indonesia. Tak seperti satelit, penerapan akses nirkabel tetap di daerah pedesaan dibatasi oleh jangkauan, karena populasi yang jarang dan medan yang sulit membuat perluasan menara dan backhaul— infrastruktur yang menghubungkan inti jaringan ke jaringan lokal yang lebih kecil—menjadi mahal.
OpenSignal menilai Starlink memberikan kecepatan download yang sedikit lebih cepat daripada FWA. Namun, akses nirkabel tetap itu unggul dalam tiga metrik lainnya yakni kecepatan upload, konsistensi kualitas, dan pengalaman video—terutama konsistensi kualitas yang skornya hampir menyentuh angka 50%, jauh lebih tinggi daripada hasil Starlink.
Di samping itu, pengguna Starlink di Indonesia merasakan kecepatan yang sedikit lebih cepat dibandingkan dengan pengguna FWA. Akan tetapi, pengguna FWA atau akses nirkabel tetap merasakan layanan yang jauh lebih konsisten.
Untuk diketahui, sebagian besar layanan FWA di Indonesia masih berbasis 4G, sementara penerapan 5G hanya diperluas secara bertahap karena terbatasnya ketersediaan spektrum 5G. Menghadapi kendala ini, operator beralih ke FWA 4G sebagai cara yang pragmatis dan layak secara komersial untuk memenuhi permintaan pasar.
“Telkomsel mendominasi segmen ini dengan layanan Orbit, yang tumbuh 31% menjadi 1,1 juta pelanggan pada tahun 2023. XL juga menawarkan FWA, sementara IOH (Indosat Ooredoo Hutchison) memasuki pasar pada tahun 2024 dengan HiFi Air, yang diluncurkan bersamaan dengan kesepakatan ekspansi 4G/5G nasional dengan Nokia yang mencakup FWA,” beber OpenSignal.
(far/wep)































