Logo Bloomberg Technoz

Rencana ini sejalan dengan kebijakan pertahanan yang diusungnya sejak menjabat pada Mei tahun lalu — yaitu memperkuat kesiapan Taiwan menghadapi agresi China yang semakin meningkat. Beijing memandang Taiwan, yang berpenduduk sekitar 23 juta jiwa, sebagai bagian dari wilayahnya yang harus dibawa kembali ke dalam kendali China, bahkan dengan kekuatan militer bila diperlukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, China meningkatkan tekanan terhadap Taiwan melalui berbagai cara, terutama lewat latihan militer besar-besaran yang semakin canggih. Awal tahun ini, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) menggelar latihan dua hari yang mensimulasikan serangan ke pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan, termasuk latihan blokade dan manuver kapal induk.

Pada Agustus lalu, Lai juga mengumumkan rencana peningkatan anggaran pertahanan, sebagian untuk merespons desakan Presiden AS Donald Trump yang meminta Taiwan memperkuat kemampuan pertahanannya menghadapi ancaman Beijing.

Sistem pertahanan udara terpadu yang kompleks telah menjadi komponen penting strategi militer beberapa negara. Sejak 2011, Israel mengandalkan sistem Iron Dome untuk mendeteksi dan mencegat ancaman udara dari Iran dan kelompok proksinya.

Sementara itu, pada Januari lalu, Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk mengembangkan dan menerapkan sistem yang kemudian dikenal sebagai Golden Dome, dengan tujuan melindungi seluruh wilayah AS dari serangan rudal, baik berskala terbatas maupun besar dari negara seperti Rusia dan China.

“Presiden Lai menunjukkan bahwa Taiwan belajar dari perang di Ukraina, di mana ancaman udara datang dari berbagai sistem: jet tempur, pembom, rudal jelajah dan balistik, serta berbagai jenis UAV,” ujar Drew Thompson, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura.

“Taiwan, seperti militer modern lainnya, memiliki beragam sistem dan rudal pertahanan udara untuk menghadapi berbagai ancaman. Mengintegrasikan sistem buatan dalam negeri dan impor ke dalam satu sistem pertahanan udara terpadu adalah langkah cerdas,” tambah Thompson, yang juga mantan pejabat Departemen Pertahanan AS untuk urusan China.

Pengumuman T-Dome ini diperkirakan akan memicu reaksi keras dari Beijing. China kerap merespons langkah yang dianggap sebagai provokasi terkait isu Taiwan dengan meningkatkan latihan militer dan retorika politik.

Latihan militer PLA yang digelar pada April lalu terjadi tak lama setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington akan memberikan “deterrence yang kredibel” di kawasan Indo-Pasifik, termasuk di Selat Taiwan. Latihan itu juga berlangsung setelah Lai untuk pertama kalinya menyebut China sebagai “kekuatan musuh asing.”

(bbn)

No more pages