Di pasar forward, pagi ini pergerakan rupiah offshore juga stabil di kisaran Rp16.580/US$, di mana level itu lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah dini hari tadi di posisi Rp16.595/US$.
Beberapa valuta Asia pada pembukaan perdagangan pagi ini juga dibuka menguat. Dolar Singapore, yen Jepang, ringgit Malaysia, begitu juga dolar Hong Kong.
Secara teknikal rupiah berpotensi menuju Rp16.540-Rp16.500/US$ yang makin mendekati MA-50.
Level resistance potensial selanjutnya menarik dicermati pada Rp16.480/US$ yang menjadi level paling optimis, juga Rp16.400/US$ sebagai resistance psikologis.
Rupiah memiliki support pada level Rp16.600/US$ dan Rp16.650/US$ serta Rp16.700/US$ sebagai support terkuat, tercermin dari trendline indicator channel pada time frame daily, menggaris chart dalam tren satu tahun ke belakang.
Namun memang, tidak dapat dikesampingkan, catatan rapat tersebut juga menegaskan “mayoritas peserta menyoroti risiko kenaikan inflasi yang masih mengancam prospek ekonomi.”
Risalah terbaru juga mengungkap adanya perbedaan pandangan tajam di antara anggota komite, dengan tujuh dari 19 peserta memproyeksikan tidak ada pemangkasan tambahan pada 2025.
Kekhawatiran Pasar Tenaga Kerja
Sejak pertemuan September, beberapa gubernur The Fed — termasuk Wakil Gubernur Philip Jefferson dan Michelle Bowman — menyampaikan kekhawatiran bahwa kekuatan pasar tenaga kerja menjadi alasan untuk menurunkan suku bunga.
Sementara itu, Stephen Miran berpendapat bahwa tingkat suku bunga netral yang lebih rendah dari perkiraan sebelumnya berarti The Fed harus memangkas suku bunga dengan cepat, seperti yang diberitakan Bloomberg News.
Donald Trump dan beberapa pejabat pemerintah juga ikut menekan The Fed agar segera menurunkan suku bunga, dengan mengutip data ekonomi terbaru yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan.
“Para peserta menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pencapaian target lapangan kerja dan inflasi,” demikian tertulis dalam risalah rapat tersebut.
Pertemuan FOMC ini berlangsung dua minggu sebelum dimulainya penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown), yang hingga kini telah menghentikan sementara publikasi sejumlah data ekonomi penting.
Chris G. Collins dari Bloomberg Economics berpandangan, pejabat Federal Reserve secara umum mendukung pemangkasan suku bunga seperempat poin pada September. Biarpun risalah pertemuan itu mencerminkan nada yang lebih hawkish dibanding keputusan kebijakan itu sendiri.
“Kami tetap memperkirakan The Fed akan kembali memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC Oktober, seiring berlanjutnya government shutdown yang menekan pertumbuhan ekonomi dan sentimen pasar,” papar Collins dalam risetnya.
(fad/aji)





























