“Harga emas yang menanjak ke level US$ 4.000/troy ons mencerminkan tidak hanya peningkatan permintaan terhadap aset aman (safe haven asset), tetapi juga ketidakpercayaan terhadap aset lain seiring risiko fiskal dan tensi geopolitik yang makin tinggi,” kata Hebe Chen, Analis di Vantage Markets yang berbasis di Melbourne (Australia), seperti dikutip dari Bloomberg News.
Goldman Sachs Group Inc pun memasang posisi bullish terhadap emas. Dalam proyeksi terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 4.900/troy ons pada Desember 2026. Lebih tinggi ketimbang ‘ramalan’ sebelumnya yaitu US$ 4.300/troy ons.
“Meningkatnya pembelian oleh bank sentral adalah pergeseran struktural dalam manajemen cadangan devisa, dan kamu tidak melihat ada perubahan dalam waktu dekat. Skenario dasar kami adalah tren akumulasi emas oleh sektor publik akan berlanjut selama tiga tahun mendatang,” sebut riset Goldman Sachs.
Pemilik Emas Terbanyak
Mengutip catatan World Gold Council, Amerika Serikat (AS) adalah negara pemegang emas terbanyak di dunia. Per kuartal II-2025, Negeri Adikuasa memiliki cadangan emas sebanyak 8.133,46 ton.
Kenaikan harga emas membuat valuasi yang dimiliki AS mencapai lebih dari US$ 1 triliun. Dengan asumsi US$ 1 setara Rp 16.560, maka cadangan emas Negeri Paman Sam bernilai Rp 16.650 triliun.
Sebagai pembanding, negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) di level US$ 1 triliun adalah Meksiko, Australia, Korea Selatan, Spanyol, Belanda, Turkiye, Arab Saudi, dan Indonesia. Jadi cadangan emas di Negeri Adikuasa kira-kira senilai dengan total perekonomian di negara-negara tersebut.
Lebih dari separuh cadangan emas AS disimpan di markas militer ternama Fort Knox, Kentucky. Sisanya tersebar di West Point, Denver, dan bunker setinggi 24 meter di bawah kantor The Fed New York di Manhattan.
Februari lalu, beredar teori konspirasi bahwa tidak ada emas di Fort Knox. Hal ini sempat mendapat perhatian dari Presiden Donald Trump.
“Kami akan ke Fort Knox, Fort Knox yang legendaris itu, untuk memastikan ada emas di sana. Kalau tidak ada, maka kami akan sangat kecewa,” ujar Trump kala itu.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Berapa cadangan emas yang berada di Tanah Air?
Menurut data World Gold Council, Indonesia menguasai emas sebanyak 78,57 ton per kuartal I-2025. Posisi ini tidak berubah sejak kuartal IV-2019.
Sepanjang periode 2000-2025, rata-rata kepemilikan emas oleh BI adalah 81,78 ton. Posisi tertinggi adalah 96,45 ton pada kuartal II-2000 dan terendah di 73,09 ton pada kuartal IV-2006.
Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa Bank Indonesia (BI) menjual emas sebanyak 11 ton. Namun kabar itu segera dibantah.
“Mengenai BI melakukan penjualan emas sebanyak 11 ton yang beredar, dapat kami sampaikan bahwa Bank Indonesia tidak melakukan penjualan emas sebagaimana disebutkan,” tegas Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.
(aji)



























