Logo Bloomberg Technoz

Dengan demikian, kadar nitrit yang ditemukan hampir empat kali lipat dari batas aman EPA. Kondisi ini sejalan dengan pola gejala keracunan yang ditunjukkan para siswa. “Gejala dominan terjadi di saluran pencernaan bagian atas, seperti mual, muntah, dan nyeri lambung, mencapai 36%. Bukan di saluran pencernaan bawah seperti diare,” jelas Karimah.

Menurutnya, hal itu pula yang membuat sejumlah dokter sempat heran, karena diare biasanya menjadi gejala utama keracunan makanan. Namun, keracunan nitrit berbeda karena zat toksik ini perlu didetoksifikasi di hati terlebih dahulu. Gejala pusing akibat pelebaran pembuluh darah juga tercatat pada 29% korban, disusul keluhan lemas dan sesak napas akibat methemoglobinemia, yakni kondisi ketika hemoglobin kehilangan kemampuan optimal membawa oksigen.

“Gejala lemas dan sesak napas khas keracunan nitrit, karena oksigen yang dibawa darah berkurang sehingga tubuh cepat lemah,” ujarnya.

Tim investigasi memastikan tidak ada bakteri penyebab keracunan makanan seperti E. coli, Staphylococcus aureus, maupun Bacillus cereus. Racun lain seperti sianida, arsen, logam berat, atau pestisida juga tidak ditemukan. “Yang konsisten kami temukan hanya kadar nitrit tinggi,” tegasnya.

Karimah menambahkan, kandungan zat pada buah atau sayuran tidak selalu merata. Hal ini menjelaskan perbedaan dampak keracunan pada setiap siswa. “Anak dengan sistem detoksifikasi tubuh lebih kuat bisa lebih cepat mengeluarkan nitrit, sementara yang lain lebih lambat,” ujarnya.

Adapun jumlah korban yang mencapai 1.315 siswa tercatat karena adanya imbauan melalui pesan suara agar semua penyantap MBG memeriksakan diri ke Puskesmas maupun RSUD. “Orang tua memanfaatkan kesempatan ini dengan mengantar anaknya ke fasilitas kesehatan,” pungkasnya.

(dec/spt)

No more pages