Logo Bloomberg Technoz

Analis Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI. Ia mempertahankan target harga di angka Rp4.400/saham.

Kemudian, analis unggulan pasar modal RHB Sekuritas, Andrey Wijaya juga memberikan rekomendasi serupa, mempertahankan rating buy saham BBRI dengan target harga mencapai Rp4.300/saham.

Sepanjang 2025, atau tepatnya pada delapan bulan pertama tahun ini, BBRI berhasil mencatat pertumbuhan positif pendapatan bunga bersih (net interest income) menjadi Rp74,7 triliun, menguat 1,4% dibanding dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year–on–year/ YoY).

“Kredit tumbuh 5,8% YoY dan Dana Pihak Ketiga menguat 9% YoY, dengan rasio CASA meningkat menjadi 65,6% pada delapan bulan pertama tahun 2025 (8M25) dari 64,8% setahun sebelumnya, menunjukkan komposisi pendanaan yang lebih sehat. CoC bertahan di 3,3% dan CIR mencatat kenaikan menjadi 37,6% dari 35,1% pada 8M24,” tulis Andrey Wijaya dalam riset yang diterbitkannya, Kamis.

“Mencerminkan efisiensi yang relatif stabil namun dengan biaya yang lebih tinggi,” jelas Andrey.

Namun memang, NIM turun tipis menjadi 6,2% pada delapan bulan pertama tahun 2025 dari 6,4% pada 8M24, meskipun relatif stabil secara bulanan.

“Kami memproyeksikan NIM akan membaik seiring pelonggaran likuiditas dari pemangkasan suku bunga BI serta penempatan dana pemerintah sebesar Rp55 triliun,” terang Andrey.

Head of Research RHB Sekuritas Indonesia melihat peluang rebound pada semester II–2025 bagi BBRI, didukung perbaikan likuiditas pasca penurunan suku bunga acuan, pelonggaran kebijakan makro prudensial, serta percepatan belanja pemerintah.

“Pertumbuhan kredit dinilai bakal lebih kencang, terutama melalui anak usaha (Pegadaian, PNM),” mengutip riset RHB.

Dengan tren yang positif, on–track dalam peluang rebound, Andrey tegas mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp4.300/saham.

“Kami memprediksi pemulihan pendapatan kredit dan fee income pada semester II–2025, seiring perbaikan likuiditas dan dorongan belanja pemerintah, kendatipun risiko terkait segmen mikro masih membayangi.”

(fad)

No more pages