"Maka tadinya orang [pengusaha] yang biasa pinjam ke bank untuk ekspansi, lebih tertarik untuk pinjam. Karena biayanya lebih rendah. Begitu pula dengan konsumen [rumah tangga]. Mereka tidak ragu lagi berbelanja, karena bunga bank rendah," ujarnya.
Kondisi itu, diyakini olehnya dapat mendorong secara bersamaan antara pertumbuhan pasokan dengan permintaan di masyarakat.
"[Strategi] ini sudah pernah kita jalankan pada Mei 2021 bulan Mei," katanya.
Di sisi lain, dia juga meyakini bahwa kebijakannya menempatkan dana pemerintah di sistem keuangan Indonesia, tidak akan memicu terjadinya fenomena 'demand pull inflation' atau kondisi di mana harga-harga barang meningkat karena jumlah permintaan melebihi pasokan yang tersedia.
Menurutnya, femonena demand pull inflation hanya akan terjadi apabila pertumbuhan ekonomi Indoensia berada di atas level potensialnya.
"Kita kalau hitung betul [pertumbuhan ekonomi potensial] Indonesia sekitar 6,7%. Setelah krisis kita tidak pernah tumbuh seperti itu. Jadi kita punya ruang untuk mendorong ekonomi dengan menggalakkan permintaan sampai beberapa tahun ke depan, tanpa memicu apa yang disebut demand flow inflation," ujarnya.
Adapun, kondisi sektor riil Indonesia tengah menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir, terutama di sektor manufaktur. Sebagai informasi, indeks PMI manufaktur Indonesia berada di level 51,5 pada Agustus 2025. Capaiain ini adalah laju ekspansi pertama dalam lima bulan terakhir, setelah PMI terkontraksi empat bulan beruntun sebelumnya.
Sebelumnya, PMI sudah terkontraksi sebesar 46,7 di April, kemudian 47,4 di Mei, berlanjut di Juni (46,9), dan Juli (49,2). Adapun, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi.
(yan)




























