Selain penanganan awal, Yogi menyoroti pentingnya pencegahan melalui edukasi dan sanitasi yang baik. Ia menyarankan guru, petugas kantin, dan orang tua dilatih mengenali ciri makanan yang tidak layak konsumsi, seperti perubahan warna, bau busuk atau asam, tekstur berlendir, hingga kemasan yang menggembung.
“Panca indera bisa menjadi detektor pertama sebelum makanan sampai ke anak,” ujarnya.
Langkah pencegahan lain mencakup kebiasaan mencuci tangan dengan benar, menjaga kebersihan alat masak dengan air panas dan sabun, memisahkan makanan mentah dan matang, serta memastikan suhu penyimpanan dan pemasakan sesuai standar. “Daging sapi minimal dimasak pada suhu 71°C, ayam 74°C, dan telur harus matang sempurna,” jelas Yogi.
Ia juga mengingatkan agar makanan tidak dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam setelah dimasak dan tidak mencairkan bahan beku di suhu ruang karena bisa pencairan menggunakan suhu ruang dapat membantu pertumbuhan bakteri.
“Buang makanan yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa atau berbau dan berasa aneh. Pencegahan adalah kunci agar KLB keracunan bisa dihindari,” pungkasnya.
(fik/del)





























