Secara akumulasi, pendapatan dan laba kotor semester I/2025 masih sejalan dengan proyeksi tahunan. Namun beban operasional yang lebih tinggi, termasuk biaya jasa profesional dan diskon pembiayaan piutang, menekan margin laba operasi dan laba bersih.
Realisasi laba operasi dan laba bersih baru mencapai 34% dan 7% dari target tahunan, jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir.
Dari sisi volume, penjualan pada 7 bulan pertama 2025 atau hingga Juli, tercatat 20,5 juta ton atau turun 4% dibanding periode sama tahun lalu. Angka ini setara 53% dari perkiraan setahun penuh, relatif sesuai dengan rata-rata historis.
Meski demikian, BRI Danareksa menilai inisiatif distribusi yang mulai dijalankan sejak Juli 2025 akan memerlukan waktu lebih lama untuk mendongkrak permintaan di paruh kedua.
“Kami memangkas proyeksi volume 2025 menjadi 38 juta ton atau turun 1% dibanding tahun sebelumnya, dari sebelumnya 38,6 juta ton,” tulis tim riset. Dengan penyesuaian tersebut, proyeksi pendapatan 2025 dipangkas menjadi Rp35,6 triliun dan laba bersih menjadi Rp263 miliar, atau turun 53% dari perkiraan sebelumnya.
Tim riset menambahkan, meskipun harga semen kantong di pasar ritel mulai menunjukkan pemulihan pada September 2025 setelah sempat turun pada Agustus, tantangan utama tetap ada pada lemahnya daya beli masyarakat, musim hujan, serta lambatnya realisasi belanja infrastruktur pemerintah.
“Kami menurunkan rekomendasi menjadi sell dengan target harga Rp2.500/saham” tulis BRI Danareksa.
Sementara dalam survey Bloomberg, hanya ada delapan analis merekomendasikan buy saham GGRM. Sembilan lainnya merekomendasikan hold dan enam analis merekomendasikan sell.
Target harga saham SMGR dalam konsensus tersebut ada di Rp2.869/saham untuk 12 bulan ke depan.




























