Logo Bloomberg Technoz

OCBC Sekuritas merekomendasikan buy saham ANTM dan mengerek target harga menjadi Rp4.150/saham.

Berdasarkan survey Bloomberg, sebanyak 22 analis merekomendasikan buy saham ANTM. Hanya ada enam analis yang merekomendasikan hold tanpa satu pun analis merekomendasikan sell.

Target harga saham ANTM secara konsensus dalam survey tersebut ada di Rp3.653/saham untuk 12 bulan ke depan.

Kinerja ARCI Balik Arah

Selain ANTM, berkah harga emas juga disebut akan menguntungkan ARCI. Tim Analis Mandiri Sekuritas bahkan menyebut produksi emas ARCI merupakan terbesar ketiga setelah Freeport dan PT United Tractors Tbk (UNTR). 

Posisi ini membuat ARCI unggul di tengah momentum kenaikan harga emas yang diprediksi terus berlanjut akibat kebijakan pelonggaran The Fed, meningkatnya risiko geopolitik, serta permintaan yang kian besar dari bank sentral dan ETF.

Terlebih, ARCI membalikkan kinerja pada kuartal II-2025 berkat pulihnya tambang Araren berkadar emas tinggi dan bersiap menambah dorongan dari proyek tambang bawah tanah Kopra yang ditargetkan beroperasi akhir tahun, sehingga produksi diproyeksikan melonjak dari 127 ribu ons pada 2025 menjadi 211,5 ribu ons pada 2028 dengan potensi kenaikan cadangan signifikan dari hasil eksplorasi.

“Pendapatan ARCI diproyeksikan tumbuh dengan CAGR naik 29% pada 2024–2028, didorong terutama oleh peningkatan kadar emas, bukan ekspansi kapasitas,” kata Tim Analis.

Produksi diproyeksikan menembus 200.000 ons pada 2028, dengan margin EBITDA melebar ke 35–38% dan laba bersih melonjak dari US$10,5 juta pada 2024 menjadi US$169,6 juta pada 2028, sekaligus membuka peluang dividen dengan yield hingga 7,6%.

Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy saham ARCI dengan target harga Rp1.400/saham.

Selain Mandiri Sekuritas, hanya ada dua perusahaan sekuritas yang menyematkan rating untuk saham ARCI, yakni UOB Kay Hian dan Astronacci. Keduanya merekomendasikan buy. Adapun target harga konsensus Rp1.215/saham untuk 12 bulan ke depan.

JP Morgan Belum Bullish ke UNTR

Tim Analis JP Morgan masih menyematkan rating netral untuk UNTR, meski perusahaan baru saja meneken perjanjian jual beli tambang emas milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Pasalnya UNTR menurunkan panduan operasional 2025 untuk kontraktor tambang Pamapersada (Pama) dan penjualan alat berat big machine. Prospek 2026 juga dinilai berhati-hati, dengan manajemen belum memperkirakan adanya pertumbuhan signifikan hingga 2027.

Siswa belajar perawatan alat berat melalui VR di lembaga pendidikan kejuruan United Tractors di Jakarta. (Muhammad Fadli/Bloomberg)

“Kami tetap netral karena sebagian besar risiko penurunan sudah tercermin, dengan saham UNTR diperdagangkan di 6,0x P/E 2026E dan dividend yield 7–8%,” tulis tim riset.

Pada segmen alat berat, target penjualan big machine 2025 diturunkan menjadi 1.150–1.200 unit dari 1.500 unit sebelumnya, seiring berakhirnya siklus belanja modal perusahaan tambang. Langkah ini diperkirakan memberi tekanan 3–4% pada laba tahun ini. Untuk 2026, manajemen memperkirakan volume hanya flat hingga sedikit positif, dengan siklus penggantian baru berlangsung pada 2027.

Sementara itu, di bisnis kontraktor tambang, target overburden removal 2025 dipangkas 4% menjadi 1.180 juta bcm, sementara strip ratio diturunkan ke 7,7–7,8x.

“Risiko masih ada dengan strip ratio bisa turun lebih jauh ke 7,5x,” lanjut mereka.

(dhf)

No more pages