Namun perkembangan terbaru menyoroti dilema Beijing dalam menyeimbangkan pengendalian kapasitas industri dan menjaga rantai pasok sektor strategis.
“Ini menandakan pemerintah China tidak ingin mengganggu rantai nilai,” kata Cameron Hughes, analis pasar baterai di konsultan CRU Group.
Menurut dia, percepatan dimulainya kembali operasi berpotensi menekan harga litium.
“Kemudahan proses perizinan ini juga menjadi sinyal positif bahwa gangguan serupa tidak akan menimpa produsen lepidolite lainnya.”
Bloomberg News melaporkan pada Agustus bahwa produksi di Jianxiawo dihentikan setidaknya tiga bulan setelah CATL gagal memperpanjang izin tambang.
Kini, perusahaan melihat aktivitas penambangan bisa dimulai lebih cepat, kendati otoritas setempat belum mengeluarkan izin baru, ujar sumber tersebut. CATL belum menanggapi permintaan konfirmasi.
Tambang Jianxiawo di Yichun, salah satu pusat litium utama di China, kini menjadi sorotan sentimen pasar. Menjelang kedaluwarsa izin pada 9 Agustus, para pedagang bahkan menerbangkan drone di atas lokasi untuk mencari tahu kondisi operasional tambang.
Harga litium karbonat, bentuk olahan yang digunakan dalam baterai, belakangan mencatat volatilitas tajam akibat ketidakpastian pasokan, sementara kampanye anti-involution di China menambah kecemasan atas potensi pengawasan ketat pemerintah pada sektor yang sudah kelebihan pasokan.
“Dimulainya kembali operasi Jianxiawo lebih cepat dari perkiraan bisa mengganggu proses rebalancing pasar dalam jangka pendek,” tulis analis Jefferies termasuk Shuhang Jiang dalam catatan kepada klien. “Tidak mengejutkan bila saham lithium China bereaksi negatif.”
Pada perdagangan awal di Sydney, Rabu, saham Liontown Resources Ltd., IGO Ltd., dan Mineral Resources Ltd. semuanya merosot lebih dari 10%. SQM dan Albemarle masing-masing ditutup turun 8,8% dan 11% pada Selasa.
(bbn)






























