Pembelian juga dilakukan melalui perusahaan kecil yang kurang dikenal untuk menyamarkan pengguna akhir sebenarnya, ujar sumber tersebut, yang meminta anonim karena isu ini sensitif.
Sementara itu, importir besar China, termasuk raksasa migas negara Cnooc, mengalihkan pengiriman reguler dari Beihai agar tidak dikaitkan dengan perdagangan itu maupun terkena risiko sanksi AS, eksportir LNG terbesar dunia.
Beberapa trader luar negeri juga menghindari pelabuhan tersebut dengan alasan serupa.
Kargo perdana China dari Arctic LNG 2 dikirim menjelang pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dengan Presiden Xi Jinping.
Namun, kelanjutan impor ini memberi sinyal lebih kuat sekaligus berisiko menyeret Beijing ke dalam tekanan Washington terhadap Moskow terkait perang di Ukraina.
Sejauh ini, pemerintahan Trump kerap menyoroti India atas perdagangan minyaknya dengan Rusia. Beijing, sebaliknya, belum mendapat kritik terbuka maupun sanksi ekonomi serupa.
Data pelacakan kapal Bloomberg menunjukkan, pengiriman ketiga dari proyek Arctic LNG 2 dijadwalkan tiba di China selatan secepatnya pada Senin. Sedikitnya empat kapal lagi tercatat sedang menuju ke sana.
Proyek Rusia tersebut sempat kesulitan mencari pembeli sejak dijatuhi sanksi oleh pemerintahan Presiden Joe Biden pada 2023, yang bertujuan memangkas pendapatan ekspor energi Moskow.
Fasilitas itu mulai menyalurkan LNG tahun lalu melalui armada kapal “gelap”, namun baru berhasil mencapai pelabuhan luar negeri lewat pengiriman ke China.
Gedung Putih di bawah Trump belum memberi komentar resmi terkait pengiriman tersebut. Sikap ini kontras dengan era Biden, yang cepat menjatuhkan sanksi pada perusahaan maupun kapal yang terindikasi membantu ekspor LNG dari Arctic LNG 2.
Perusahaan China pada dasarnya berhati-hati terhadap tekanan AS, mengingat banyak di antaranya masih memiliki kontrak jangka panjang dengan fasilitas ekspor LNG Amerika.
(bbn)































