Laju kenaikan harga emas dunia didorong oleh sentimen terkait arah kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Emas amat diuntungkan saat The Fed kembali melangsungkan tren pengguntingan suku bunga. Itu karena pergerakan harga emas berkebalikan dengan dolar AS.
Dua aset ini memiliki hubungan yang berbeda arah. Saat dolar AS terdepresiasi, biasanya harga emas akan mengalami kenaikan.
Pergerakan harga emas juga tak lepas dari meningkatnya kegelisahan pasar akan masa depan Bank Sentral, turut memberikan dorongan baru bagi reli logam mulia yang telah berlangsung sepanjang tahun.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, serangan Presiden AS Donald Trump yang bertambah intensif terhadap The Fed menjadi penyebab terbaru kecemasan investor. Independensi Bank Sentral yang terancam digelisahkan akan memangkas kepercayaan terhadap AS.
Berikut harga saham emas pada siang hari ini, Selasa (2/9/2025):
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 11,84% ke posisi Rp850
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melesat 9,24% ke posisi Rp520
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan kenaikan 6,88% ke posisi Rp3.420
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat 4,28% ke posisi Rp730
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 4,02% di posisi Rp2.590
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mencatat kenaikan 3,36% di posisi Rp615
Kenaikan harga emas ini akan mendatangkan keuntungan untuk emiten–emiten pertambangan dan/atau yang terkait dengan bisnis emas. Utamanya mereka yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia. Baik secara langsung atau tidak, nantinya akan ikut memperbesar pendapatan perusahaan emiten emas.
Dalam jangka menengah, harga maupun permintaan emas masih berpeluang melanjutkan kenaikan kedepannya, juga sejalan dengan sifat emas yang merupakan aset safe–haven utama di tengah gejolak politik dan ekonomi.
Ditambah lagi, biasanya, emas amat sangat diuntungkan oleh situasi suku bunga rendah. Logam ini juga mendapat dukungan di tengah–tengah manuver investor yang mencari perlindungan dari gejolak pasar yang dipicu oleh perang tarif Trump.
“Harga emas hidup karena faktor fundamental dan teknikal bertemu. Resisten di US$ 3.450/troy ons sudah tertembus, sehingga memantik momentum beli,” kata Charu Chanana, Strategist di Saxo Capital Markets Pte, seperti dikutip dari Bloomberg.
Jika mencermati terhadap kacamata analisis teknikal, ada kemungkinan harga bisa naik lagi usai tertembusnya resistance tersebut menuju US$ 3.558/troy ons. Apabila level resistance ini belum berhasil break dengan volume yang tinggi, maka support potensial harga emas adalah US$ 3.454/troy ons.
(fad/aji)





























