Logo Bloomberg Technoz

Ahli geologi T. Bachtiar menjelaskan dalam bukunya bahwa Sesar Lembang adalah rangkaian perbukitan yang membentang sejauh 22 kilometer dari Palasari hingga Cisarua, dengan lebar sekitar 300 meter. Sesar ini terbukti aktif karena memiliki pergerakan dalam kurun Holosen, yakni rentang waktu 10.000 tahun terakhir.

Geofisikawan Irwan Meilano juga menegaskan, sebuah sesar dikategorikan aktif bila masih menunjukkan bukti pergerakan geologi. Artinya, Sesar Lembang bukanlah fosil geologi yang sudah mati, melainkan masih hidup dan sewaktu-waktu dapat melepaskan energi dalam bentuk gempa.

Dampaknya pun tidak bisa disepelekan. Meski Cimahi baru saja diguncang gempa kecil, para ahli mengingatkan bahwa Sesar Lembang berpotensi memicu gempa besar dengan kekuatan magnitudo hingga 7.

Jejak Sejarah Terbentuknya

Penelitian Pretty Rosanawita dalam tesis Magisternya di ITB pada 2013 mengungkap, Sesar Lembang terbagi menjadi dua bagian: timur dan barat. Bagian timur lebih dahulu terbentuk sekitar 200.000–180.000 tahun lalu, terkait dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda purba.

Sementara bagian barat terbentuk lebih muda, sekitar 62.000–24.000 tahun silam. Pembentukan ini berhubungan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu. Meski terbentuk di periode berbeda, keduanya memiliki mekanisme yang sama, yaitu akibat runtuhan dinding kaldera atau circumferential dike.

Hasil runtuhan inilah yang menciptakan patahan besar. Hingga kini, garis patahan itu membelah bentang alam Jawa Barat, sekaligus menjadi sumber potensi guncangan yang ditakuti masyarakat Bandung Raya.

Aktivitas dan Potensi Gempa

Jalan rusak akibat gempa bumi di Nanao, Prefektur Ishikawa, Jepang, Selasa dini hari (2/1/2024). (Soichiro Koriyama/Bloomberg)

Berdasarkan catatan geologi, pergerakan Sesar Lembang relatif lambat, yakni sekitar 0,2–2,5 milimeter per tahun. Namun, akumulasi energi yang berlangsung ribuan tahun dapat dilepaskan dalam satu kejadian gempa besar.

Sesar ini diperkirakan bisa menghasilkan gempa dengan magnitudo 6,5–7. Periode ulangannya diprediksi terjadi setiap 170–670 tahun sekali. Data BMKG Bandung menyebutkan, pelepasan energi besar kemungkinan terjadi setiap 500 tahun.

Sejarah mencatat aktivitasnya pada 2010–2012. Pada 2011, terjadi gempa magnitudo 3,3 yang merusak 384 rumah, sembilan di antaranya rusak parah. Meski skalanya kecil, dampaknya besar karena pusat gempa dangkal serta kondisi tanah lunak di kawasan Bandung Barat.

Ancaman "Gempa Pembuka"

Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, menilai peningkatan aktivitas seismik Sesar Lembang bisa saja menandai adanya “gempa pembuka” atau foreshocks. Fenomena ini biasa mendahului gempa yang lebih besar, meski waktunya tidak bisa diprediksi.

“Fenomena seperti ini yang dikhawatirkan adalah gempa pembuka. Saya tidak katakan peningkatan aktivitas ini pasti memicu gempa kuat, karena belum dapat diprediksi kapan akan terjadi,” jelas Daryono pada Rabu (21/8/2025).

Ia mengingatkan, gempa Sesar Lembang pada 2011 dengan magnitudo 3,3 saja mampu merusak ratusan rumah di Kecamatan Cisarua. Jika gempa yang lebih kuat terjadi, dampaknya akan berlipat, terutama di wilayah dengan struktur bangunan yang lemah.

Kawasan Paling Rawan

Wilayah yang berada di jalur Sesar Lembang dianggap paling rentan terdampak. Di antaranya adalah Lembang, Cisarua, Parongpong, Cikalongwetan, hingga Cimahi Utara. Bandung bagian utara juga termasuk dalam zona berbahaya karena berdiri di atas endapan vulkanik muda yang lunak.

Menurut pakar geologi, kondisi tanah lunak dapat memperkuat efek guncangan gempa. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, risiko kerusakan dan korban jiwa semakin meningkat.

Bandung Raya kini dihuni lebih dari 8 juta jiwa. Sebagian besar wilayah urban berkembang tanpa memperhatikan aspek mitigasi bencana. Hal ini menambah urgensi untuk segera melakukan upaya antisipasi secara kolektif.

Mitigasi dan Kesiapsiagaan

BMKG, BPBD Jawa Barat, serta pemerintah daerah berulang kali mengingatkan pentingnya mitigasi bencana. Edukasi kepada masyarakat tentang jalur evakuasi, titik kumpul, serta standar bangunan tahan gempa harus menjadi prioritas.

Selain itu, pembangunan infrastruktur sebaiknya mempertimbangkan peta mikrozonasi gempa. Gedung-gedung publik, seperti sekolah dan rumah sakit, harus dibangun dengan standar teknis yang memadai.

Universitas-universitas di Bandung, seperti ITB dan Unpad, juga aktif melakukan penelitian terkait potensi kegempaan. Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan tata ruang dan pembangunan.

Lembang: Antara Wisata dan Ancaman

Ilustrasi asal usul Sesar Lembang (Diolah berbagai sumber)

Lembang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata alam dengan udara sejuk, perkebunan, dan destinasi rekreasi. Namun di balik pesonanya, ia menyimpan ancaman laten berupa sesar aktif. Ironisnya, semakin banyak infrastruktur wisata yang dibangun di atas jalur patahan.

Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi pemerintah daerah. Di satu sisi, pariwisata mendorong ekonomi masyarakat. Di sisi lain, pembangunan tanpa mitigasi dapat meningkatkan kerentanan bencana.

Kesadaran publik perlu terus ditingkatkan. Bahwa keindahan alam Lembang tidak bisa dipisahkan dari sejarah geologi yang kompleks, dan masyarakat harus hidup berdampingan dengan potensi gempa.

Menanti Langkah Nyata

Gempa Cimahi 19 Agustus 2025 seharusnya menjadi peringatan dini. Meski kecil, ia membuktikan bahwa Sesar Lembang tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Pertanyaan tentang “kapan gempa besar akan datang” memang belum terjawab.

Namun yang pasti, mitigasi harus dilakukan sebelum terlambat. Dari pengalaman 2011, jelas terlihat bahwa gempa kecil saja bisa memicu kerusakan signifikan. Bagaimana jika magnitudo 6 atau 7 benar-benar mengguncang?

Dengan populasi padat, tanah lunak, serta infrastruktur yang belum sepenuhnya tahan gempa, Bandung Raya berpotensi menghadapi bencana besar. Warga, pemerintah, dan komunitas ilmiah harus bersatu mengantisipasi ancaman senyap ini.

Sesar Lembang adalah pengingat bahwa manusia hidup di atas bumi yang dinamis. Ia bukan sekadar garis patahan dalam peta geologi, melainkan sumber ancaman nyata.

Kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan pembangunan berbasis mitigasi adalah kunci. Bandung Raya harus belajar dari sejarah, agar tidak terkejut ketika alam kembali menunjukkan kekuatannya.

Karena bagi masyarakat Parahyangan, tinggal di tanah rawan gempa bukan pilihan, melainkan kenyataan yang harus dihadapi dengan bijak.

(seo)

No more pages