Planet potensial itu diperkirakan bakal lebih kecil dari Bumi, tetapi lebih besar dari Merkurius, yang mengorbit 100-200 kali lebih jauh dari Matahari daripada Bumi. Gravitasinya tampaknya mendorong benda-benda di dekatnya sekitar 15 derajat keluar dari bidang datar tata surya, seperti riak yang mengganggu permukaan danau.
“Tanda kami sederhana, tetapi kredibel,” kata Siraj.
Dirinya memperkirakan bahwa hanya 2-4% kemungkinannya hanya kebetulan. Bukti awal untuk Planet Kesembilan menunjukkan peluang yang serupa, meskipun tanda-tandanya berbeda.
Planet Sembilan akan menarik benda-benda ke arahnya, sementara Planet Y ini tampaknya memiringkan orbitnya hingga tidak sejajar. Secara teori, kedua dunia tersebut bisa saja ada secara bersamaan.
Sementara itu, penelitian baru menunjukkan bahwa jika tak ada planet tersembunyi maka bidang rata-rata Sabuk Kuiper seharusnya sejajar dengan bidang tata surya yang tidak berubah. Namun, para astronom kini mendeteksi lengkungan yang jelas antara 80 dan 200 unit astronomi (AU).
Kemiringan ini kemungkinan besar bukan primordial, karena presesi orbit alami bakal menghapusnya dalam waktu kurang dari 100 juta tahun. Agar lengkungan ini bertahan, seharusnya ada sesuatu yang mempertahankannya, misalnya dari gravitasi planet tersembunyi.
Planet Y dan Planet Kesembilan Berbeda
Jonti Horner dari University of Southern Queensland di Australia melihat hal ini sebagai kemungkinan. “Ini menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak tahu apa yang ada di luar sana. Baru dalam beberapa dekade terakhir kita benar-benar mulai menjelajahi ruang angkasa di luar Neptunus,” ujar dia.
Para astronom meyakini planet-planet semacam itu mungkin tidak terbentuk begitu jauh dari Matahari. Sebaliknya, bisa saja telah di luar tata surya pada awal pembentukan tata surya. “Penyebaran tampaknya lebih mungkin terjadi,” kata Horner.
Masih melansir Earth, Planet Y yang diusulkan adalah berbeda dari Planet Kesembilan baik dalam hal lokasi maupun pengaruhnya. Planet Kesembilan, jika nyata, diperkirakan bakal menjelaskan pengelompokan jalur orbit pada jarak yang sangat jauh.
Sementara Planet Y, akan menjelaskan mengapa bidang rata-rata sabuk Kuiper melengkung. “Tandanya berbeda,” ungkap Siraj. Dia juga menekankan bahwa kedua gagasan tersebut dapat hidup berdampingan tanpa kontradiksi.
Pencarian Planet Y Terus Berlanjut
Observatorium Vera C. Rubin akan segera memulai survei 10 tahunnya, yang memetakan langit malam dengan detil yang belum pernah ada sebelumnya. Fasilitas ini dapat mendeteksi Planet Y secara langsung atau mengonfirmasi tanda-tanda tidak langsung pengaruhnya.
“Rubin akan secepatnya memperluas katalog objek trans-Neptunus yang terukur dengan baik,” tutur Siraj.
Kemudian dia mengatakan bahwa jika Planet Y memang ada, dalam beberapa tahun pertama survei, maka kemungkinan masyarakat akan melihatnya atau mengumpulkan bukti yang lebih kuat tentang efek gravitasinya. Untuk saat ini, Planet Y masih berupa hipotesis, sebuah petunjuk yang diambil dari pola orbit yang halus.
Namun sejarah menunjukkan bahwa perhatian yang cermat terhadap ketidakteraturan kecil dapat mengungkapkan penemuan-penemuan besar. Dari prediksi Neptunus di abad ke-19 hingga identifikasi Pluto di abad ke-20, pencarian planet tersembunyi selalu mengubah pemahaman kosmi. Jika Planet Y nyata, mungkin bakal segera beralih dari spekulasi menjadi fakta.
(far/wep)
























