Logo Bloomberg Technoz

"Hasilnya bisa berupa tatanan baru perdagangan global di mana perdagangan Selatan-Selatan menjadi pusat gravitasi baru dan perusahaan multinasional China muncul sebagai pemain kunci baru."

Ekspor China meningkat selama dekade terakhir. (Bloomberg)

Data ekonomi pekan lalu menunjukkan dampak negatif tarif AS terhadap ekonomi China, di mana aktivitas manufaktur tumbuh dengan laju terlemah sejak November dan investasi di sektor properti dan infrastruktur menurun.

Berdasrkan data yang dirilis pada 7 Agustus, ekspor ke AS merosot pada Juli untuk bulan keempat berturut-turut, meski pengiriman ke negara-negara di Afrika hingga Asia Tenggara lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan tersebut.

Para pejabat China semakin berupaya memperkuat hubungan dengan negara-negara berkembang dalam beberapa bulan terakhir, mengurangi hambatan perdagangan dan menandatangani perjanjian perdagangan baru.

Pada Juni, Presiden Xi Jinping menyatakan akan menghapus semua tarif impor bagi hampir seluruh negara Afrika. Xi juga telah menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) dan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Amerika Latin dan Asia Tenggara.

S&P Global memandang perdagangan China dengan 20 mitra terbesarnya di Global South kini rata-rata menyumbang 20% dari produk domestik bruto (PDB) negara-negara tersebut. Selain itu, lebih dari separuh total surplus perdagangan China berasal dari Global South, dibandingkan dengan 36% untuk AS dan 23% untuk Eropa Barat.

S&P Global mencatat adanya beberapa penolakan yang harus dihadapi para pejabat China, termasuk aksi protes buruh dan kelompok industri terhadap impor murah yang mengganggu industri lokal.

"Terlepas dari risiko-risiko ini, ketidakpastian tinggi akibat tarif AS dan perlambatan ekonomi China akan terus mendorong perusahaan-perusahaan China beralih investasi ke Global South," tulis para ekonom S&P Global dalam catatan tersebut.

(bbn)

No more pages