"Telur cacing ini bisa masuk melalui ya tadi tangannya atau ke mulut ya dan juga ini menandakan bahwa kesehatan lingkungannya terutama MCK ya itu harus menjadi bagian yang penting dalam mencegah kecacingan," lanjutnya.
Dicky juga mengingatkan perlunya melakukan kebiasaan cuci tangan yang harus diterapkan meski bukan hanya pada wabah Covid-19 saja, melainkan sebelum melakukan aktivitas seperti makan dan minum demi mencegah kecacingan tersebut.
"Sebelum atau setelah dari toilet itu juga harus kebiasaan cuci tangan antaranya juga mencegah kecacingan ini ya," katanya.
Sebab kata Dicky, bahwa telur cacing yang telah masuk ke tubuh pada organ usus, akan berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam kasus ini sudah terjadi pada anak di Sukabumi tersebut.
"Dalam kasus ekstrem jumlahnya bisa sangat banyak sehingga cacing bisa saling menggulung dan menumpuk sampai kiloan itu betul," tegasnya.
Dicky menegaskan bahwa kasus ini jangan dianggap pandang sebelah mata, apalagi terjadi pada anak-anak.
Dampak kesehatannya tak main-main, bisa menyebabkan anak mengalami stunting karena kekurangan gizi kronis hingga paling fatal adalah kematian.
"Jadi yang namanya stunting juga itu ya karena cacingan bisa ya jadi cacing menyerap nutrisi dari makanan yang seharusnya diperuntukkan atau dimanfaatkan oleh tubuh anak juga bisa menyebabkan anemia atau kurang darah terutama cacing tambang ya yang menghisap darah di dinding usus,"urainya.
"Selain itu juga bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak karena anak yang jadi stunting tadi lemas jadi sulit konsentrasi juga. Sumbatan usus ya jadi kalau jumlah cacingnya terlalu banyak ya seperti kasus lebih dari 1 kilogram cacing ya ini bisa menyebabkan usus tersumbat bahkan pecah yang berpotensi juga fatal atau mematikan," sambungnya.
Dicky pun mengimbau para orang tua yang anaknya mengalami cacingan tetap harus pergi ke fasilitas kesehatan. Selain itu, perlu adanya perbaikan asupan makanan bergizi agar tak terjadi pengulangan cacingan.
"Dalam kasus berat pemberiannya bisa diulang obatnya atau kombinasi sesuai jenis cacing. Nah pada kasus yang komplikasi jika ada sumbatan usus berat dimungkinkan untuk melakukan tindakan bedah untuk meluarkan cacing selain itu apalagi kalau ada anemia berat ya tentu harus ada penambah darah," tuturnya.
Sebelumnya, diberitakan bocah asal Sukabumi, Jawa Barat, meninggal dunia karena kondisi tubuh dipenuhi cacing.
Diinformasikan, bocah tersebut ditemukan oleh pegiat sosial dalam kondisi kritis dan sempat dibawa ke RS. Namun, upaya mencari bantuan biaya medis ke berbagai Lembaga pemerintah maupun sosial berakhir nihil.
Selama perawatan, dari tubuh bocah tersebut dikeluarkan cacing hidup hingga seberat 1 kg, bahkan hasil CT Scan menunjukkan cacing dan telurnya sudah menyebar ke otak. Dia meninggal pada 22 Juli 2025.
Kasus ini memicu keprihatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengklaim bahwa lingkunga tempat tinggal yang kotor membuat bocah tersebut mengalami cacingan akut.
(dec/spt)































