Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong menyebut tindakan tersebut "tidak bisa dibenarkan" dan mengatakan pemerintahan Netanyahu sedang mengisolasi Israel.
Sebuah unggahan kemudian muncul di akun X PM Israel pada Selasa malam yang berbunyi, "sejarah akan mengingat Albanese apa adanya: Seorang politikus lemah yang mengkhianati Israel dan meninggalkan orang-orang Yahudi Australia."
Prime Minister Benjamin Netanyahu:
— Prime Minister of Israel (@IsraeliPM) August 19, 2025
History will remember Albanese for what he is: A weak politician
who betrayed Israel and abandoned Australia's Jews.
Australia, pendukung lama Israel, memberikan dukungan penuh pada negara Yahudi tersebut setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, ketika para pejuangnya menyerbu Israel, menewaskan 1.200 orang dan menahan 250 sandera.
Namun, seiring berlarutnya konflik, Israel semakin terisolasi—kecuali AS—akibat semakin meningkatnya jumlah korban jiwa di Gaza. Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas mengatakan lebih dari 62.000 warga Palestina terbunuh dalam perang tersebut. Pembatasan Israel pada bantuan kemanusiaan pun memicu peringatan dari PBB dan lembaga bantuan mengenai memburuknya kelaparan.
Di Australia, sentimen anti-Israel dan insiden antisemitisme meningkat, termasuk serangan pembakaran sebuah sinagoga di Melbourne. Meski pemerintah Albanese mengecam kasus-kasus ini dan menyerukan kohesi sosial, komunitas Yahudi setempat merasa semakin tidak aman.
Burke menyebut pernyataan Netanyahu merupakan "pelampiasan amarah" serupa yang ditujukan pada negara-negara lain yang mengumumkan rencana akan mengakui negara Palestina. Menteri Dalam Negeri itu menekankan Albanese telah menelepon Netanyahu sebagai bentuk sopan santun sebelum mengumumkan tentang Palestina.
"Kekuatan tidak diukur dari berapa banyak orang yang bisa Anda bom atau berapa banyak orang yang bisa Anda biarkan kelaparan," kata Burke. "Kekuatan jauh lebih baik diukur dari apa yang telah dilakukan PM Anthony Albanese, yaitu saat ada keputusan yang kita tahu Israel tidak akan suka, dia langsung menelepon Benjamin Netanyahu.”
Surat kabar liberal Israel, Haaretz, juga mengkritik pernyataan Netanyahu, menyebut unggahannya di X tersebut "gila."
"Netanyahu tidak puas dengan tujuh front perang Israel selama dua tahun terakhir," kata Haaretz dalam editorialnya. "Ia tampaknya sangat bertekad untuk mendeklarasikan perang terhadap seluruh dunia."
(bbn)































