“Dengan tarif resiprokal itu konsekuensinya melemahkan demand di AS dan potentially di negara-negara lain. Dengan demand lemah, harga minyak cenderung tertekan,” tegas dia.
Dihubungi secara terpisah, Analis Komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono memandang prospek harga minyak dunia pada 2026 cenderung menurun ke level US$50—US$60 per barel.
Dengan demikian, dia juga berpendapat asumsi ICP yang dipatok pemerintah untuk 2026 sebesar US$70/barel sudah cukup akomodatif.
Bahkan, jika nantinya realisasi harga ICP berada di batas atas maka tetap cukup konservatif jika harga minyak global masih melandai.
“Jika ICP 2026 rata-rata bergerak di sekitar US$60-an per barel [batas bawah target asumsi], ini akan menjadi kabar baik bagi APBN karena akan mengurangi beban subsidi energi dan memberikan ruang fiskal yang lebih besar untuk program pembangunan lain,” kata Wahyu.
Sementara itu, jika ICP nantinya bergerak di kisaran US$70 hingga US$80 per barel, anggaran negara diprediksi masih mampu menanganinya karena pergerakan tersebut masih berada di zona aman.
Mengutip Buku II Nota Keuangan Beserta Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2026, target lifting minyak tahun depan ditetapkan di level 610.000 barel per hari (bph), sedangkan outlook realisasi pada 2025 diproyeksikan berada di rentang 593.000—597.000 bph.
Sementara itu, target lifting gas dalam RAPBN 2026 ditetapkan sebesar 984.000 bsmph, dengan outlook realisasi 2025 di kisaran 976.000—980.000 bsmph.
Adapun, harga minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP) ditarget di level US$70/barel, dibandingkan dengan outlook tahun ini di rentang US$68 sampai US$82 per barel.
Sekadar catatan, ICP dalam APBN 2025 ditetapkan sebesar US$82/barel dengan realisasi sampai dengan Juli di level US$78,59/barel. ICP periode Juli 2025 tersebut turun tipis 1,07%, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya di level US$69,33/barel.
Plt. Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan penurunan ICP Juli 2025 dipengaruhi oleh keputusan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang merevisi naik outlook pasokan minyak Declaration of Cooperation (DoC).
Dia menjelaskan negara-negara OPEC sepakat merevisi estimasi pasokan menjadi 41,56 juta barel per hari (bph) atau naik 349.000 bph dari proyeksi sebelumnya.
“Hal tersebut ditandai oleh Keputusan 8 negara OPEC+ untuk kembali meningkatkan produksi pada periode Agustus 2025 sebesar 548.000 bph yang berpotensi menambah pasokan minyak mentah untuk pasar,” kata Tri dalam keterangan pers Kementerian ESDM, dikutip Kamis (14/8/2025).
Selain itu, Tri memandang turunnya harga acuan minyak mentah juga dipengaruhi kekhawatiran pasar soal potensi kenaikan tarif perdagangan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Pada saat yang sama, kata Tri, pasar juga mewaspadai peningkatan stok minyak mentah (crude) AS yang naik 7,7 juta barel menjadi 426,7 juta barel pada akhir Juli 2025.
“[Hal tersebut] yang menyebabkan peningkatan pasokan minyak mentah dunia," tegas dia.
Berikut perincian perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama pada Juli 2025 dibandingkan dengan Juni 2025:
- Dated Brent turun sebesar US$0,47/barel dari US$71,46/barel menjadi US$70,99/barel.
- WTI (Nymex) turun sebesar US$0,08/barel dari US$67,33/barel menjadi US$67,24/barel.
- Brent (ICE) turun sebesar US$0,25/barel dari US$69,80/barel menjadi US$69,55/barel.
- Basket OPEC naik sebesar US$1,04/barel dari US$69,73/barel menjadi US$70,78/barel.
- Rata-rata ICP minyak mentah Indonesia turun sebesar US$0,74/barel dari US$69,33/barel menjadi US$68,59/barel.
(wdh)































