Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent berulang kali menyatakan bahwa, setelah The Fed tidak memangkas suku bunga pada Juni dan Juli, serta mempertimbangkan revisi data ketenagakerjaan yang menunjukkan jumlah pekerja lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, pemangkasan 50 basis poin bisa saja dibenarkan. Sementara itu, pelaku pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga akan dilakukan sebesar 25 basis poin.
Musalem menambahkan, di satu sisi, “data mulai memberikan indikasi apakah ada potensi inflasi yang lebih persisten.” Namun di sisi lain, ia melihat adanya “risiko penurunan di pasar tenaga kerja.”
Ia menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi AS, ditambah tekanan pada margin keuntungan perusahaan akibat tarif, dapat mengancam pasar tenaga kerja yang sejauh ini masih cukup solid.
“Saya menimbang kedua hal ini,” katanya. “Ketika kita melihat adanya ketegangan antara dua mandat utama kami, kita harus mengambil pendekatan yang seimbang.”
Laporan yang dirilis Kamis (14/8) menunjukkan inflasi harga produsen (IHP) AS pada Juli melonjak tercepat dalam tiga tahun, didorong oleh kenaikan margin yang mengindikasikan perusahaan mulai membebankan biaya impor lebih tinggi kepada konsumen. Awal pekan ini, data lain juga mencatat kenaikan indeks harga konsumen (IHK) inti di atas perkiraan, terutama didorong oleh kenaikan harga jasa.
Di pasar tenaga kerja, perekrutan tercatat jauh lebih lemah dalam tiga bulan terakhir, dengan rata-rata penambahan hanya 35.000 pekerja per bulan. Meski demikian, tingkat pengangguran tetap rendah di level 4,2%.
(bbn)
































