Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan terbaru ini dikeluarkan menjelang sejumlah acara diplomatik besar dalam beberapa pekan ke depan, termasuk KTT antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump di Alaska besok (15/8/2025).

Akhir bulan ini, Presiden Korsel Lee Jae Myung akan bertolak ke Tokyo untuk bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba sebelum melanjutkan perjalanan ke Washington, di mana ia akan bertemu dengan Trump untuk kali pertama. Kedua pertemuan diperkirakan akan membahas ancaman yang semakin besar dari Korut.

Kritik keras Kim Yo Jong menandakan hubungan antar-Korea kian membeku, menunjukkan penolakan langsung Pyongyang terhadap isyarat perdamaian terbaru Seoul.

Dengan menyebut Korsel sebagai "negara paling musuh" dan menolak langkah-langkah damai yang bahkan bersifat simbolis, Korut semakin konfrontatif sambil tetap membuka sedikit pintu untuk berunding dengan AS, tetapi dengan syaratnya sendiri.

"Jika AS terus berpegang pada cara berpikir yang usang, pertemuan antara para pemimpin tertinggi akan tetap hanya menjadi 'harapan' bagi pihak AS," tegas Kim. "Kami sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan yang terobsesi dengan masa lalu yang tak dapat diubah."

Pemerintah Presiden Lee sebelumnya menyatakan telah membongkar pengeras suara di sepanjang perbatasan yang menyiarkan kritik terhadap rezim Kim, dan Korut juga mulai menurunkan beberapa di antaranya sebagai tanggapannya. Kim mengatakan hal itu tidak benar.

"Kami tidak pernah membongkar pengeras suara yang terpasang di kawasan perbatasan dan tidak bersedia membongkarnya," ujar Kim.

Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan dalam pernyataannya bahwa mereka akan secara konsisten mengupayakan langkah-langkah untuk menstabilkan hubungan dengan Korut dengan perspektif jangka panjang.

Menyikapi latihan militer bersama antara AS dan Korsel yang akan dimulai minggu depan, Kim mengatakan kebijakan Korut terhadap negara tetangganya di selatan itu tidak akan berubah. 

Trump dan Kim Jong Un bertemu secara langsung tiga kali selama masa jabatan pertama Presiden AS, tetapi diskusi keduanya tidak meyakinkan pemimpin Korut untuk memperlambat pengembangan program senjata nuklirnya. Korut sejak itu menolak gagasan untuk kembali duduk bersama AS dan muncul sebagai sekutu utama Putin, mendukung perang Rusia di Ukraina.

(bbn)

No more pages